HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.035 per Dolar AS Dipicu Ketegangan AS-Iran soal Selat Hormuz

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.035 per Dolar AS Dipicu Ketegangan AS-Iran soal Selat Hormuz
Foto: Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat 1/3/2024 (sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 55 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.035 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.980 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Tekanan Geopolitik Picu Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah terjadi karena investor global mencermati ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa faktor utama tekanan terhadap rupiah berasal dari situasi tersebut.

Ia mengungkapkan, "Presiden Trump pada Minggu (5/4/2026) memperingatkan bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz paling lambat hari Selasa (7/4/2026), menunjukkan bahwa tenggat waktu pukul 8 malam waktu bagian timur telah ditetapkan untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut."

Ancaman tersebut juga disampaikan Trump melalui platform Truth Social dengan peringatan akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika tuntutan tidak dipenuhi.

Pihak Iran melalui Juru Bicara Presiden Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei menanggapi bahwa transit hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk kompensasi kerusakan akibat perang.

Harga Minyak Naik dan Risiko Inflasi Global

Ketegangan di kawasan Teluk memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang berdampak pada aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz yang masih terbatas dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah yang berimbas pada meningkatnya kekhawatiran inflasi global.

Ibrahim Assuaibi menyampaikan, "Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir."

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.037 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.015 per dolar AS.

Penulis :
Arian Mesa