
Pantau - Rosan Roeslani menyatakan pihaknya memprioritaskan penggunaan teknologi yang telah terbukti dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Ia menegaskan bahwa pihaknya tetap terbuka terhadap berbagai teknologi baru, namun teknologi yang telah terbukti berhasil di banyak negara akan menjadi prioritas utama.
"Kita terbukalah untuk teknologi lain. Kita terbuka pada dasarnya, tapi yang penting memang kita memprioritaskan teknologi yang sudah terbukti berjalan baik di banyak negara, di seluruh dunia. Nah itu tentunya kita berikan prioritas," ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung Danantara, Jakarta.
Konferensi pers tersebut turut dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.
Rosan menambahkan bahwa penggunaan teknologi harus memastikan proses berjalan baik, cepat, serta dapat diterima masyarakat.
"Untuk (pemanfaatan) teknologi lain yang tetap terbuka, yang penting memang pekerjaan ini bisa dilakukan dengan baik, cepat dan paling penting diterima masyarakat, terutama di lingkungan tempat pengelolaan sampah itu akan dihasilkan," ujarnya.
Prioritas Wilayah dan Kebijakan
Pemerintah menetapkan sebanyak 20 wilayah aglomerasi di 47 kabupaten/kota sebagai prioritas investasi PSEL.
Kebijakan tersebut merujuk pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar wilayah kota dan aglomerasi dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari diprioritaskan.
Sebanyak 20 wilayah aglomerasi tersebut telah memenuhi syarat tahap pertama dan telah memperoleh surat keputusan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Sementara itu, kota dengan timbulan sampah antara 500 hingga 1.000 ton per hari tidak memenuhi syarat utama dalam Peraturan Presiden terkait prioritas PSEL.
Hasil pemantauan dan evaluasi tim gabungan menunjukkan terdapat tujuh wilayah aglomerasi di 26 kabupaten/kota dengan timbulan sampah pada kisaran tersebut.
Pengembangan Teknologi PSEL
Rosan menyebutkan bahwa teknologi yang digunakan dalam PSEL dapat berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Korea, Belanda, dan China.
Selain mengadopsi teknologi luar negeri, Indonesia juga akan mengembangkan teknologi sendiri untuk mendukung pengelolaan sampah menjadi energi.
"Alatnya bisa dari negara Jepang, Korea, Belanda, China dan juga ada juga produk nanti dari kita sendiri juga," katanya.
- Penulis :
- Shila Glorya








