HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat di Tengah Optimisme Konflik AS-Iran Mereda, Investor Kembali Masuk Aset Berisiko

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Menguat di Tengah Optimisme Konflik AS-Iran Mereda, Investor Kembali Masuk Aset Berisiko
Foto: (Sumber : Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). IHSG ditutup turun 362,71 poin setara 4,57 persen ke level 7.577,06. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat pada Kamis pagi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong investor kembali ke aset berisiko.

IHSG dibuka naik 39,75 poin atau 0,52 persen ke level 7.663,34, sementara indeks LQ45 turut menguat 2,74 poin atau 0,36 persen ke posisi 762,69.

Sentimen Global Dorong Penguatan Pasar

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan pasar mulai mengantisipasi skenario de-eskalasi konflik meski risiko belum sepenuhnya hilang.

"Pasar mulai mem-price in skenario de-eskalasi, tercermin dari rotasi kembali ke aset berisiko dan pelemahan dolar AS, tetapi analis menilai risiko masih tinggi karena negosiasi belum final dan potensi eskalasi tetap terbuka," ujarnya.

Ia menjelaskan optimisme dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut konflik dengan Iran “very close to over”, serta peluang tercapainya gencatan senjata permanen dalam waktu dekat.

Namun demikian, kondisi di lapangan masih dinilai kompleks karena AS tetap meningkatkan tekanan melalui blokade pelabuhan Iran dan penghentian perdagangan laut, sementara Iran mengancam akan melakukan balasan.

Faktor Domestik dan Pergerakan Global

Dari dalam negeri, posisi Utang Luar Negeri Indonesia tercatat mencapai 437,9 miliar dolar AS per Februari 2026 atau tumbuh 2,5 persen secara tahunan.

ULN pemerintah sebesar 215,9 miliar dolar AS masih menjadi penopang utama meskipun mengalami perlambatan, sedangkan ULN swasta tercatat menurun 0,7 persen menjadi 193,7 miliar dolar AS.

Pergerakan bursa global juga turut memengaruhi sentimen pasar, dengan indeks saham di Eropa dan Amerika Serikat bergerak variatif, sementara mayoritas bursa Asia mencatatkan penguatan.

Liza menambahkan bahwa dinamika pasar tetap dipengaruhi oleh potensi oil shock yang dapat memicu inflasi, mempertahankan suku bunga tinggi, serta menekan aset non-yield seperti emas.

Penulis :
Aditya Yohan