
Pantau - Amerika Serikat dan kelompok Hamas menggelar perundingan langsung di Kairo, Mesir, pada 14 April 2026, yang menjadi pembicaraan perdana sejak diberlakukannya gencatan senjata di Jalur Gaza.
Perundingan tersebut melibatkan Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian untuk Gaza Nickolay Mladenov, penasihat senior AS Aryeh Lightstone, serta ketua perunding Hamas Khalil al-Hayya.
Fokus Negosiasi dan Perbedaan Sikap
Dalam pembicaraan itu, Hamas menuntut Israel berkomitmen pada fase pertama kesepakatan, termasuk penghentian serangan dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Sumber yang dekat dengan delegasi Hamas menyebut usulan yang ada belum seimbang.
"Dokumen yang diusulkan mencerminkan ketidakseimbangan yang besar dalam urutan prioritas, semisal keamanan Israel diutamakan, sementara hak-hak kemanusiaan, politik, dan administratif Palestina ditunda," ungkap sumber tersebut.
Di sisi lain, Israel dikabarkan bersedia memenuhi tuntutan tersebut dengan syarat Hamas setuju untuk melucuti senjata.
Latar Belakang dan Tantangan Implementasi
Perundingan ini berlangsung setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2803 pada November 2025 untuk mengimplementasikan rencana perdamaian Gaza.
Utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff sebelumnya juga telah mengumumkan fase kedua rencana perdamaian yang mencakup penarikan pasukan Israel dari sebagian wilayah Gaza dan pembentukan struktur pemerintahan baru.
Meski demikian, bentrokan antara Israel dan kelompok Palestina dilaporkan masih terjadi di lapangan.
Mladenov bahkan mengancam akan melanjutkan permusuhan jika Hamas menolak usulan yang diajukan dalam negosiasi tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








