
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis sebesar 2,21 poin atau 0,03 persen ke posisi 7.621,38 pada perdagangan hari ini di tengah perhatian pasar terhadap dinamika negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta aksi ambil untung investor.
Pergerakan IHSG yang melemah ini terjadi meskipun mayoritas bursa saham regional Asia menunjukkan penguatan.
Indeks LQ45 juga tercatat turun sebesar 2,63 poin atau 0,35 persen ke posisi 75,32.
IHSG sempat dibuka menguat pada awal perdagangan, namun berbalik turun ke zona negatif dan bertahan di zona merah hingga penutupan, terutama pada sesi kedua.
Pasar domestik masih mencermati peluang negosiasi putaran kedua antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan menghasilkan kesepakatan perdamaian jangka panjang.
Kabar menyebutkan kedua negara mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua pekan untuk memberikan ruang bagi pembicaraan lanjutan.
Sentimen Global Tekan Pergerakan Pasar
Selat Hormuz dilaporkan masih tertutup secara efektif akibat blokade ganda, yang membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Iran disebut berpotensi membuka jalur alternatif melalui sisi Oman apabila kesepakatan tercapai.
Harapan terhadap tercapainya kesepakatan membuat harga minyak dunia turun hingga di bawah 100 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak tersebut turut meredakan kekhawatiran inflasi global, meskipun pasar tetap sensitif terhadap perkembangan di kawasan tersebut.
Dari China, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat sebesar 5 persen secara year on year, meningkat dari 4,5 persen pada periode sebelumnya.
Kinerja ini mencerminkan ketahanan ekonomi China di tengah ketidakpastian global, dengan ekspor yang kuat menutup lemahnya permintaan domestik.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya 5,1 persen.
IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat tipis menjadi 5,1 persen pada 2027.
Secara global, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 3,1 persen pada 2026 akibat konflik di Timur Tengah.
Aksi Profit Taking Warnai Perdagangan
Selain faktor global, pelemahan IHSG juga dipengaruhi aksi profit taking setelah indeks mencatat penguatan selama lima hari berturut-turut.
Sebanyak empat sektor tercatat menguat, dipimpin sektor transportasi dan logistik yang naik 3,00 persen.
Sektor kesehatan menguat 2,08 persen, sementara sektor teknologi naik 1,43 persen.
Sebaliknya, tujuh sektor mengalami penurunan dengan sektor barang konsumen non primer mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,71 persen.
Sektor infrastruktur turun 0,67 persen dan sektor properti melemah 0,44 persen.
Saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar antara lain DEFI, KRYA, LABA, AYLS, dan AGRO.
Sementara saham dengan penurunan terdalam antara lain PSDN, SDMU, SMIL, IFSH, dan ROTI.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.636.682 transaksi dengan volume mencapai 39,81 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp18,14 triliun.
Sebanyak 356 saham menguat, 318 saham melemah, dan 119 saham stagnan.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei, Shanghai, dan Hang Seng tercatat menguat, sementara indeks Strait Times justru melemah sebesar 0,27 persen.
- Penulis :
- Shila Glorya








