
Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat sinergi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) guna meningkatkan kualitas data nasional, khususnya pada sektor obat dan makanan di Indonesia.
Kolaborasi Perkuat Data Industri Strategis
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan pihaknya siap memberikan dukungan penuh dalam pendataan sektor industri yang berada dalam pengawasan BPOM, meliputi obat, pangan olahan, kosmetik, obat tradisional, dan suplemen kesehatan.
Ia mengungkapkan, "Data industri yang dikelola BPOM memiliki peran penting dalam struktur ekonomi nasional, khususnya pada sektor pangan olahan."
Menurutnya, data yang komprehensif hingga tingkat lapangan akan memperkuat perencanaan dan evaluasi pengawasan, sekaligus mendukung pengembangan pelaku usaha termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemanfaatan Big Data untuk Kebijakan Nasional
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menilai kerja sama lintas sektor ini akan memperkaya kualitas data ekonomi nasional yang menjadi dasar penyusunan kebijakan.
Ia mengatakan, "Hasil sensus ekonomi akan melengkapi basis data ekonomi nasional yang sangat dibutuhkan."
BPS mengadopsi metodologi statistik mutakhir dengan memadukan pendekatan konvensional serta pemanfaatan teknologi big data dan data science dalam pelaksanaan SE2026.
Melalui kolaborasi ini, BPOM dan BPS juga berupaya memetakan pelaku usaha yang belum memiliki nomor izin edar serta meminimalkan kesenjangan data guna meningkatkan efektivitas pengawasan dan perlindungan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan








