HOME  ⁄  Ekonomi

Pete-Pete Makassar Beralih ke Gas Elpiji, Upaya Bertahan Hidup di Tengah Tekanan Transportasi Modern

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pete-Pete Makassar Beralih ke Gas Elpiji, Upaya Bertahan Hidup di Tengah Tekanan Transportasi Modern
Foto: (Sumber: Suasana aktivitas mobil angkutan kota (Angkot) yang lebih dikenal dengan sebutan mobil "Pete-pete di Makassar. ANTARA Suriani Mappong.)

Pantau - Fenomena angkutan kota atau pete-pete di Makassar menunjukkan upaya sopir bertahan hidup di tengah perubahan sistem transportasi modern yang kian kompetitif.

Kendaraan yang sempat berjaya pada era 1980-an hingga 2000-an itu kini mulai tersisih akibat kehadiran transportasi online dan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi.

Aktivitas pete-pete pun cenderung sepi penumpang dengan banyak kendaraan menunggu tanpa kepastian di sejumlah titik.

Salah satu sopir, Yunus, memilih menggunakan tabung gas elpiji 3 kilogram sebagai bahan bakar alternatif untuk menekan biaya operasional harian.

Langkah tersebut mampu menurunkan biaya dari sekitar Rp200 ribu menjadi Rp80 ribu per hari.

Peralihan ke bahan bakar gas dilakukan secara mandiri tanpa pelatihan atau standar keselamatan resmi.

Yunus mempelajari sistem tersebut secara otodidak melalui video dan eksperimen hingga berhasil menerapkannya.

Sejumlah sopir lain kemudian mengikuti langkah tersebut dan menjadikan Yunus sebagai rujukan.

Secara lingkungan, penggunaan gas berpotensi menurunkan emisi hingga sekitar 21 persen.

Namun penggunaan elpiji 3 kilogram untuk kendaraan dinilai tidak sesuai peruntukan dan berisiko terhadap keselamatan.

Akademisi mengingatkan bahwa sistem bahan bakar gas memiliki standar ketat dan kesalahan teknis dapat memicu kebocoran hingga ledakan.

Praktik ini juga berada di wilayah abu-abu secara hukum karena elpiji bersubsidi diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga.

Sebagian penumpang mengaku sempat khawatir, meski tetap menggunakan layanan karena belum terjadi insiden besar.

Fenomena ini mencerminkan ironi dalam transisi energi, di mana masyarakat bergerak sendiri tanpa dukungan sistem yang memadai.

Pengamat transportasi menilai pemerintah perlu hadir memberikan solusi yang aman dan terjangkau bagi sopir angkutan umum.

Isu keadilan energi juga mengemuka karena akses terhadap energi bersih dinilai belum merata.

Praktik penggunaan gas pada pete-pete bahkan belum sepenuhnya terdeteksi oleh otoritas setempat.

Kondisi ini menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat lapisan bawah.

"Yunus dan rekan-rekannya tidak sedang berbicara tentang emisi karbon atau target dekarbonisasi. Mereka hanya ingin bertahan. Mereka memilih gas bukan karena ingin menyelamatkan bumi, tetapi karena ingin menyambung hidup." ungkap pengamat.

Energi hijau dinilai tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keamanan, keterjangkauan, dan keadilan.

Penulis :
Gerry Eka