
Pantau - Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan bahwa transisi energi menjadi strategi penting untuk mencapai kemandirian nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.
Anggota DEN Saleh Abdurrahman menyampaikan bahwa ketahanan energi perlu diperkuat seiring meningkatnya volatilitas harga energi dunia.
Ia mengungkapkan, "Di tengah volatilitas harga energi dunia, penguatan EBT (energi baru terbarukan) menjadi kunci agar Indonesia semakin mandiri dan tangguh menghadapi tekanan global."
Transisi energi dinilai bukan sekadar tren global, tetapi telah menjadi kebutuhan strategis bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas nasional.
Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) disebut sebagai langkah utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Percepatan EBT juga bertujuan agar Indonesia tidak terpengaruh oleh gejolak eksternal, termasuk fluktuasi harga energi dunia.
Langkah Antisipasi Pertamina dan Pemerintah
Dari sisi operasional, PT Pertamina Patra Niaga mengambil langkah antisipatif terhadap kondisi pasar global yang tidak menentu.
Direktur Pemasaran Eko Ricky Susanto menyebut pasar global masih dibayangi kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Pertamina melakukan diversifikasi sumber impor energi guna menjaga stabilitas pasokan nasional.
Selain itu, penguatan kontrak jangka panjang dengan pemasok energi juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan energi.
Optimalisasi kapasitas kilang domestik dilakukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri.
Penyaluran subsidi BBM dan LPG diperketat agar tepat sasaran dan stok tetap terjaga.
Mitigasi Dampak Ketegangan Global
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi turut mengambil langkah mitigasi terkait kondisi global, terutama setelah adanya dampak ketegangan di Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur tersebut menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia.
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman menjelaskan berbagai langkah mitigasi yang telah dilakukan pemerintah.
Ia mengatakan, "Saat ini langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan Pemerintah antara lain seperti diversifikasi impor energi, optimalisasi pasokan domestik dan biofuel, peningkatan kinerja kilang, penguatan kerja sama bilateral, dan kebijakan konsumsi bahan bakar atau LPG yang efisien."
Upaya tersebut mencakup diversifikasi impor energi dan optimalisasi sumber energi domestik sebagai bagian dari strategi nasional.
Pemerintah juga mendorong penggunaan biofuel sebagai alternatif energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Peningkatan kinerja kilang dan kerja sama bilateral menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
Kebijakan efisiensi konsumsi BBM dan LPG juga diterapkan guna menjaga keberlanjutan energi di dalam negeri.
- Penulis :
- Shila Glorya







