
Pantau - Nilai tukar rupiah pada Selasa (28/4) pagi melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.223 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.211 per dolar AS akibat ketidakpastian perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen Global Picu Tekanan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu perubahan sentimen pasar menjadi risk off di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang berbalik risk off dari ketidakpastian perdamaian di Timteng (Timur Tengah) oleh laporan apabila AS tidak menerima usulan perdamaian terbaru Iran. Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia terpantau kembali naik,” ujarnya.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak puas terhadap proposal Iran terkait pembukaan Selat Hormuz tanpa pembahasan program nuklir.
Situasi ini memicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Negosiasi Buntu dan Prospek Rupiah
Upaya diplomasi antara AS dan Iran masih menghadapi hambatan, terutama terkait isu program nuklir, blokade, dan pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.
Pembicaraan sebelumnya di Islamabad pada 11 April 2026 gagal mencapai kesepakatan, meskipun sempat terjadi gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Ketidakpastian lanjutan membuat pasar keuangan global cenderung berhati-hati dan beralih ke aset aman.
Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS dalam waktu dekat.
- Penulis :
- Aditya Yohan







