
Pantau - Fokus perang dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini mengarah secara khusus ke China, menandai babak baru dalam ketegangan dagang global.
Trump menunda penerapan tarif resiprokal selama 90 hari untuk puluhan negara lain, namun tetap menerapkan tarif universal sebesar 10 persen.
China menjadi satu-satunya negara yang dikenakan tarif sangat tinggi, mencapai 125 persen.
Kebijakan ini, menurut Trump, adalah respons terhadap sinyal dari Beijing yang berencana memberlakukan tarif 84 persen pada barang-barang ekspor Amerika Serikat.
Trump menyebut rencana China tersebut sebagai tindakan yang "kurang menghormati".
Ia menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar aksi balasan biasa, melainkan bagian dari agenda lamanya yang belum selesai sejak masa kepresidenan sebelumnya.
"Kita belum sempat melakukan hal yang benar, dan itulah yang kita lakukan sekarang sekarang," ujar Trump.
Ambisi China dan Perubahan Tatanan Global
Trump menyasar sistem perdagangan global yang selama ini menjadikan China sebagai pusat manufaktur dunia.
Sebelum Trump menjadi kandidat presiden yang serius pada 2012, kerja sama ekonomi dengan China dianggap hal yang tidak perlu dipertanyakan.
Kala itu, perdagangan dengan China diyakini akan mendorong pertumbuhan global, menyediakan barang murah, dan membuka pasar bagi perusahaan multinasional.
China bahkan menjadi pasar terbesar di dunia bagi produk-produk mewah seperti Rolls Royce, General Motors, dan Volkswagen.
Harapan bahwa kekayaan China akan memicu reformasi politik tidak menjadi kenyataan karena Partai Komunis tetap berkuasa dengan kokoh.
Sebaliknya, China menunjukkan ambisi untuk menjadi kekuatan ekonomi dominan secara global.
Pada 2015, pemerintah China meluncurkan kebijakan "Made in China 2025", cetak biru untuk menguasai sektor-sektor strategis seperti kedirgantaraan, produksi kapal, dan kendaraan listrik.
Tahun berikutnya, Trump memulai kampanyenya dengan retorika anti-China, menyalahkan negara itu atas penurunan industri AS dan penderitaan kelas pekerja.
Selama masa jabatan pertamanya, Trump mengguncang konsensus ekonomi global dengan perang dagang yang agresif.
Presiden penggantinya, Joe Biden, tetap mempertahankan sebagian besar tarif terhadap China.
Meskipun tarif ini menyulitkan ekonomi China, negara itu tidak banyak mengubah model ekonomi berbasis ekspor.
Kini, China memproduksi 60 persen mobil listrik dunia dan 80 persen baterainya, mayoritas dari merek lokal.
Trump kembali mencalonkan diri dengan janji tarif yang lebih tinggi, mengisyaratkan potensi gangguan besar terhadap sistem perdagangan global.
Dua pertanyaan utama muncul: apakah China bersedia bernegosiasi dan apakah mereka akan memberi konsesi besar.
Tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana Beijing akan merespons situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.
Visi ekonomi China kini menyatu dengan kebangkitan nasional dan supremasi Partai Komunis.
Kontrol ketat terhadap informasi dan pasar dalam negeri membuat perusahaan teknologi AS kesulitan menembus pasar China.
Di sisi lain, AS juga perlu menjawab apakah masih ingin mempertahankan sistem perdagangan bebas.
Trump berulang kali menyebut tarif sebagai hal yang baik meskipun tanpa tujuan spesifik.
Ia percaya bahwa proteksionisme bisa mendorong investasi domestik, memulangkan rantai suplai, dan meningkatkan penerimaan pajak.
Jika China menilai bahwa tarif AS bukan untuk negosiasi, mereka bisa memutuskan untuk tidak membuka diskusi sama sekali.
Dalam skenario itu, kerja sama ekonomi bisa berubah menjadi perang ekonomi total antara dua kekuatan ekonomi dunia.
Jika konflik ini terus berlanjut, hal ini bisa menandai runtuhnya tatanan ekonomi global lama dan membuka masa depan yang penuh risiko dan ketidakpastian.
- Penulis :
- Pantau Community









