
Pantau - Sekitar 48 persen warga Amerika Serikat menentang keputusan Presiden Donald Trump untuk memulai kembali uji coba nuklir, berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh YouGov bekerja sama dengan majalah Economist.
Survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 33 persen responden yang mendukung keputusan Trump, sementara 18 persen lainnya tidak memiliki sikap yang jelas terhadap isu tersebut.
Keputusan Kontroversial dan Respon Publik
Survei dilakukan pada 31 Oktober hingga 1 November 2025, dengan melibatkan lebih dari 1.600 responden dewasa di seluruh Amerika Serikat.
Margin kesalahan dalam survei ini diperkirakan sekitar 3,5 poin persentase.
Keputusan Presiden Trump untuk melanjutkan uji coba nuklir diumumkan pada Minggu, 2 November 2025.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat perlu melakukan uji coba nuklir karena negara-negara lain juga melakukannya.
Ia secara khusus menyebut Rusia, Korea Utara, dan diduga juga China sebagai negara yang telah melakukan uji coba nuklir.
Namun, pernyataan Trump menimbulkan kontroversi karena bertentangan dengan informasi resmi dari militer AS.
Laksamana Madya Richard Correll, calon komandan Komando Strategis AS yang diajukan oleh Trump sendiri, menyatakan bahwa tidak ada indikasi bahwa China maupun Rusia telah melakukan uji coba peledakan nuklir dalam beberapa tahun terakhir.
Isu Strategis Jelang Pemilu
Isu uji coba nuklir ini menjadi salah satu topik kebijakan strategis yang mendapat perhatian besar dari publik Amerika menjelang tahun pemilu.
Tingginya tingkat penolakan terhadap kebijakan tersebut menunjukkan kekhawatiran warga terhadap eskalasi perlombaan senjata nuklir dan implikasi globalnya.
Perbedaan antara pernyataan presiden dan data dari pejabat militer turut memperkuat perdebatan seputar transparansi dan akurasi kebijakan pertahanan nasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








