
Pantau - Pemerintah Korea Utara melalui kantor berita resminya, Korean Central News Agency (KCNA), pada Jumat, 28 November 2025, mengecam keras kegiatan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan di Semenanjung Korea.
KCNA menyebut bahwa latihan militer bersama dan peningkatan persenjataan oleh kedua negara telah merusak keseimbangan keamanan strategis di kawasan.
Latihan Militer Dinilai Mengancam Stabilitas Regional
Dalam pernyataan resminya, KCNA menggambarkan Washington sebagai "pemimpin yang mengancam perdamaian dan stabilitas serta menghancurkan keseimbangan keamanan strategis."
Kritik tajam diarahkan pada latihan angkatan laut antioperasi khusus yang baru-baru ini digelar di perairan dekat Phyongthaek, Provinsi Kyonggi, Korea Selatan.
Latihan tersebut, yang diklaim dilakukan untuk mengantisipasi infiltrasi, melibatkan sejumlah kekuatan militer seperti:
- kapal perusak berpeluru kendali
- helikopter antikapal selam
- pesawat patroli laut
- serta pasukan angkatan laut dan udara lainnya
AS juga diketahui telah mengerahkan pesawat tempur F-16 ke Pangkalan Udara Osan, yang juga berada di Provinsi Kyonggi.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kapabilitas operasional gabungan untuk mencegah potensi agresi dari Korea Utara maupun negara-negara lain di kawasan regional.
Korea Utara Tegaskan Sikap dan Hak Kedaulatan
Dalam artikel opini yang dimuat KCNA, Korea Utara menegaskan akan terus mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya di tengah meningkatnya tekanan militer dari AS dan sekutunya.
KCNA menyatakan bahwa upaya tersebut akan dilakukan melalui "pelaksanaan hak-hak dasarnya seiring AS terus memperbarui rekam jejaknya dalam demonstrasi kekuatan militernya yang mengancam negara-negara regional."
Kecaman ini menambah panjang ketegangan antara Korea Utara dan Amerika Serikat, sekaligus memperkuat kekhawatiran atas stabilitas keamanan di Asia Timur.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







