Pantau Flash
HOME  ⁄  Geopolitik

Rusia Kecam Penempatan Rudal oleh Jepang di Pulau Perbatasan, Sebut Langkah Militer Tokyo Ancam Stabilitas Kawasan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rusia Kecam Penempatan Rudal oleh Jepang di Pulau Perbatasan, Sebut Langkah Militer Tokyo Ancam Stabilitas Kawasan
Foto: (Sumber : Sejumlah warga mengikuti aksi unjuk rasa di depan kediaman resmi Perdana Menteri Jepang di Tokyo, Jepang, pada 21 November 2025. ANTARA/Xinhua/Jia Haocheng.)

Pantau - Pemerintah Rusia mengecam keras penempatan sistem senjata ofensif oleh Jepang di pulau-pulau perbatasan, yang dinilai mengganggu stabilitas dan keamanan regional.

Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam konferensi pers rutin yang digelar pada Jumat, 28 November 2025.

Rusia Tuduh Jepang Ikuti Jejak AS dan Tinggalkan Semangat Pascaperang

Rusia menilai bahwa Jepang, di bawah pengaruh Amerika Serikat, secara sistematis mengubah wilayah pulau-pulau perbatasan—terutama Okinawa—menjadi pos militer bersenjata ofensif.

Menurut Zakharova, senjata yang ditempatkan tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga ofensif, dan ini dianggap sebagai bentuk kebijakan militer agresif yang memperburuk ketegangan di kawasan.

"Kebijakan militer agresif Tokyo dan langkah-langkah militer seperti itu semakin meningkatkan ketegangan di bidang keamanan regional, menimbulkan risiko serius bagi negara-negara tetangga, dan pada saat yang sama menjustifikasi respons yang tegas terhadap implementasi rencana spesifik Jepang di area ini," ungkap Zakharova.

Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas pertanyaan dari wartawan Xinhua terkait penempatan rudal jarak menengah buatan Amerika Serikat oleh Jepang di pulau-pulau dekat Taiwan, China.

Zakharova menyebut penempatan tersebut sebagai tindakan yang "tidak dapat diterima" dan menyoroti bahwa Rusia terus memantau setiap pernyataan dan aksi militer dari pimpinan Jepang.

Rusia Beri Peringatan Diplomatik, Desak Jepang Kembali ke Prinsip Pascaperang

Zakharova menegaskan bahwa Rusia telah menyampaikan peringatan tegas melalui jalur diplomatik, termasuk pengiriman nota resmi kepada pemerintah Jepang, yang menyatakan bahwa penempatan rudal jarak menengah oleh Jepang—baik secara permanen, sementara, maupun dalam bentuk apa pun—tidak dapat diterima.

Ia juga mendesak pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk kembali kepada fondasi perdamaian yang menjadi dasar pembangunan Jepang setelah Perang Dunia II.

"Fondasi ini tercantum dalam hasil Perang Dunia II, fondasi yang, sayangnya, seperti yang sekali lagi harus kami tekankan, belum sepenuhnya diakui oleh Jepang," ujarnya.

Ketegangan antara Rusia dan Jepang dalam isu militer kembali meningkat seiring keterlibatan Tokyo dalam strategi pertahanan regional Amerika Serikat dan dinamika geopolitik di sekitar Selat Taiwan.

Penulis :
Ahmad Yusuf