Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Rupiah Berpotensi Menguat di Tengah Penyelidikan AS terhadap Ketua Federal Reserve

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Berpotensi Menguat di Tengah Penyelidikan AS terhadap Ketua Federal Reserve
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik kepada Ketua Federal Reserve Jerome Powell (kiri) pada Selasa (22/7/2025). Pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menghentikan pertimbangan mengganti Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ANTARA/HO-Andolu/pri..)

Pantau - Nilai tukar rupiah berpotensi menguat seiring perkembangan politik dan hukum di Amerika Serikat meski pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin (12/1/2026), rupiah bergerak melemah 28 poin atau 0,17 persen ke level Rp16.847 per dolar Amerika Serikat.

Tekanan Dolar AS Buka Peluang Penguatan Rupiah

Posisi tersebut melemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.819 per dolar Amerika Serikat.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah masih memiliki peluang untuk menguat di tengah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.

Ia menyebut potensi penguatan rupiah dipicu langkah pemerintahan Amerika Serikat yang membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

“Penyelidikan ini menyebabkan indeks dolar AS turun cukup tajam sehingga membuka peluang penguatan rupiah,” ungkapnya.

Federal Reserve mengonfirmasi adanya penyelidikan oleh jaksa federal Amerika Serikat yang berkaitan dengan proyek renovasi kantor pusat bank sentral senilai miliaran dolar.

Jerome Powell menyampaikan bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah mengirimkan surat panggilan pengadilan kepada Federal Reserve terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni lalu.

Kesaksian tersebut sebagian membahas proyek renovasi gedung-gedung bersejarah Federal Reserve.

Sentimen Pasar Masih Volatil

Lukman menilai langkah penyelidikan tersebut merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dipandang sebagai tekanan berkelanjutan pemerintah terhadap bank sentral.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut dianggap sebagai bentuk intervensi terhadap independensi Federal Reserve.

Meski reaksi pasar dinilai cukup besar, ia memperkirakan dampaknya berpotensi bersifat sementara.

“Rupiah masih berpotensi bergerak volatil ke dua arah,” katanya.

Di sisi lain, kondisi data ekonomi Amerika Serikat secara umum dinilai masih lebih kuat dari perkiraan.

Pasar tenaga kerja Amerika Serikat mencatat penambahan 50 ribu lapangan kerja, meski lebih rendah dari ekspektasi 60 ribu.

Tingkat pengangguran Amerika Serikat turun menjadi 4,4 persen pada Desember 2025, lebih rendah dibandingkan perkiraan 4,5 persen.

Data izin pembangunan perumahan meningkat menjadi 1,41 juta, melampaui ekspektasi 1,35 juta.

Sementara itu, tingkat kepercayaan konsumen tercatat mencapai 54, lebih tinggi dari estimasi 53,5.

Penulis :
Ahmad Yusuf