Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Menteri Keuangan G7 Sepakat Kurangi Ketergantungan Mineral Kritis dari China

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menteri Keuangan G7 Sepakat Kurangi Ketergantungan Mineral Kritis dari China
Foto: (Sumber: Bendera Kelompok G7, terdiri dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Jepang. (ANTARA/Anadolu/py))

Pantau -  Menteri keuangan negara-negara Kelompok Tujuh atau G7 sepakat untuk segera mengurangi ketergantungan berlebihan pada China terkait mineral-mineral kritis termasuk logam tanah jarang.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan para menteri keuangan G7 yang berlangsung di Washington pada Senin, 12 Januari 2026.

Pertemuan tersebut dipimpin oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dan turut dihadiri perwakilan negara non-G7 seperti Australia, India, dan Korea Selatan.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada publik setelah agenda berakhir.

Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan bahwa para peserta "menyatakan keinginan bersama yang kuat untuk segera mengatasi kerentanan utama dalam rantai pasokan mineral kritis".

Dominasi China dan Risiko Geopolitik

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya penggunaan dominasi China dalam pengolahan logam tanah jarang sebagai alat pengaruh diplomatik dan ekonomi.

Dalam forum tersebut, Menteri Keuangan Jepang menjelaskan posisi Jepang terkait kontrol ekspor China kepada para mitranya.

Jepang juga membagikan pelajaran dari pengalamannya menghadapi larangan ekspor logam tanah jarang oleh China pada tahun 2010.

China disebut menargetkan Jepang setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pernyataan di parlemen pada November terkait potensi respons Jepang jika terjadi serangan terhadap Taiwan.

Pada pekan sebelumnya, China memperketat kontrol ekspor ke Jepang terhadap barang-barang dwiguna yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil dan militer.

Barang-barang yang dikontrol tersebut mencakup komoditas yang berpotensi termasuk logam tanah jarang.

China diketahui menambang sekitar 70 persen dari total logam tanah jarang dunia dan memurnikan sekitar 90 persen bahan mentah global.

Logam tanah jarang memiliki peran strategis dalam pembuatan produk teknologi tinggi dan sektor pertahanan.

Strategi G7 dan Diversifikasi Mineral

Pada tahun sebelumnya, China membatasi ekspor logam tanah jarang ke Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi negosiasi perdagangan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada akhir Oktober menghasilkan pelonggaran sejumlah kebijakan perdagangan.

Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah kesepakatan Beijing untuk menangguhkan perluasan kontrol ekspor logam tanah jarang selama satu tahun.

Sebagai upaya bersama mengurangi ancaman terhadap keamanan ekonomi, G7 menyusun rencana kerja sama jangka menengah.

Rencana tersebut mencakup pemantauan potensi kekurangan mineral kritis dan koordinasi respons terhadap gangguan pasar yang disengaja.

Dalam inisiatif tersebut, G7 dan para mitranya sepakat melakukan diversifikasi sumber mineral kritis.

Upaya diversifikasi dilakukan melalui pemindahan kembali kegiatan penambangan, pengolahan, manufaktur, dan daur ulang mineral kritis ke dalam negeri masing-masing negara.

Penulis :
Ahmad Yusuf