Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Menlu Jerman Kecam Keras Iran, Rusia, dan China atas Penindasan Unjuk Rasa di Iran

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Menlu Jerman Kecam Keras Iran, Rusia, dan China atas Penindasan Unjuk Rasa di Iran
Foto: Orang-orang berkumpul di Lapangan Enghelab setelah seruan pemerintah untuk berunjuk rasa menentang protes baru-baru ini di seluruh negeri, meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel, di Teheran, Iran, pada 12 Januari 2026 (sumber: Anadolu)

Pantau - Menteri Luar Negeri Jerman mengecam keras Iran, Rusia, dan China karena dianggap berperan dalam penindasan terhadap unjuk rasa anti-pemerintah yang meluas di Iran.

Johann Wadephul, politisi senior Jerman, menyebut kerja sama antara ketiga negara tersebut sebagai biang dari berbagai kemalangan global.

"Kerja sama antara Iran, Rusia, dan sebagian juga China — segitiga ini bertanggung jawab atas banyak kemalangan di dunia," ujarnya pada 13 Januari kepada penyiar publik ARD saat melakukan kunjungan ke Washington, DC.

Jerman Desak Isolasi Politik terhadap Rezim Iran

Wadephul menyampaikan tuduhan bahwa pemerintah Iran menggunakan kekerasan berlebihan untuk menekan demonstrasi.

Ia menilai bahwa rezim Iran telah kehilangan legitimasi untuk memerintah negara tersebut.

"Rezim ini harus diisolasi secara tegas," tegas Wadephul.

Menurutnya, Berlin telah meningkatkan upaya diplomatik untuk mendorong sanksi yang lebih keras terhadap Iran, termasuk usulan untuk memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar sanksi anti-teror Uni Eropa.

Jerman, sebagai salah satu sekutu utama Israel, mengambil sikap tegas terhadap Teheran, terutama di tengah meningkatnya kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Kanselir Friedrich Merz bahkan menyebut bahwa "rezim Teheran sedang menjalani hari-hari dan pekan-pekan terakhirnya."

Seruan Penghentian Kekerasan dan Tanggapan Internasional

Wadephul juga menyampaikan bahwa dirinya telah membahas situasi Iran dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio terkait kemungkinan intervensi militer.

"Saya tidak tahu apa keputusan akhirnya. Kami telah mendiskusikan isu ini dan saya hanya diberi tahu bahwa belum ada keputusan final. Rezim di Iran pasti telah menyadari bahwa presiden ini mampu dan juga bersedia mengambil langkah semacam itu. Kami dapat mengamati hal ini dalam beberapa pekan terakhir," jelas Wadephul.

Pada Selasa, Duta Besar Iran dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Jerman sebagai bentuk protes atas tindakan kekerasan terhadap warga sipil.

"Tindakan brutal rezim Iran terhadap rakyatnya sendiri sungguh mengejutkan," demikian pernyataan resmi dari kementerian tersebut.

"Kami mendesak Iran untuk menghentikan kekerasan terhadap warganya dan menghormati hak-hak mereka," tambah pernyataan itu.

Akar Unjuk Rasa dan Data Korban

Gelombang unjuk rasa di Iran bermula pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi.

Aksi protes kemudian menyebar ke berbagai kota di seluruh Iran.

Pejabat pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang dari kerusuhan dan aksi terorisme yang terjadi.

Meskipun tidak ada angka resmi korban, Human Rights Activists News Agency (HRANA), kelompok HAM berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan lebih dari 2.500 orang tewas.

HRANA juga mencatat bahwa aparat keamanan dan pengunjuk rasa, serta lebih dari 1.100 orang lainnya mengalami luka-luka, dan sebanyak 18.000 orang telah ditahan.

Namun, data dari HRANA tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan berbeda dari perkiraan lain yang beredar.

Penulis :
Leon Weldrick
Editor :
Tria Dianti