
Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak mengulangi kesalahan konfrontasi militer sebelumnya, seraya menegaskan bahwa Teheran tetap membuka pintu diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan.
Araghchi menyampaikan peringatan tersebut dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu, dengan merujuk langsung pada pengalaman konflik sebelumnya antara Iran dan Amerika Serikat.
Peringatan Langsung soal Perang dan Diplomasi
Dalam wawancara itu, Araghchi menyatakan, "Pesan saya, jangan ulangi kesalahan yang Anda buat pada Juni".
Ia merujuk pada serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran selama perang Iran-Israel yang berlangsung selama 12 hari.
Araghchi menegaskan bahwa kekuatan militer tidak akan mampu menghentikan kemampuan Iran dengan mengatakan, "Fasilitas bisa dihancurkan, tetapi teknologi tidak bisa dibom. Tekad juga tidak bisa dibom".
Ia menyebut Iran tidak memiliki pengalaman positif dalam berhubungan dengan Amerika Serikat selama dua dekade terakhir.
Meski demikian, Araghchi menegaskan kesiapan Teheran untuk berdialog dengan mengatakan, "Iran telah membuktikan siap bernegosiasi, siap berdiplomasi".
Ia menambahkan, "Antara perang dan diplomasi, diplomasi lebih baik, meski pengalaman kami dengan AS tidak positif".
Klaim Iran soal Kerusuhan dan Tuduhan Terorisme
Terkait kerusuhan yang terjadi baru-baru ini di Iran, Araghchi mengklaim pemerintah telah menerapkan kebijakan "penahanan diri maksimal".
Namun, ia menegaskan bahwa aksi protes tersebut telah dibajak oleh pelaku kekerasan.
Saat ditanya mengenai jumlah korban tewas dari kalangan demonstran, Araghchi menyatakan bahwa mereka yang terlibat kekerasan bukan demonstran sejati, melainkan "sel teror" yang didorong oleh "rencana Israel".
Ia juga mengatakan, "Elemen teroris dari luar memasuki protes dan menembaki polisi serta aparat keamanan".
Menurut Araghchi, aparat keamanan Iran terlibat pertempuran selama tiga hari melawan kelompok yang ia sebut sebagai teroris.
"Itu persis rencana Israel untuk menyeret Presiden AS ke konflik," ujarnya.
Ia menuduh peningkatan jumlah korban terjadi akibat pembunuhan terhadap warga sipil dan aparat keamanan.
Araghchi menyatakan situasi kini telah terkendali dengan mengatakan, "Kini situasi tenang. Kami sepenuhnya mengendalikan keadaan".
Ia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut akan membawa dampak serius dengan menegaskan bahwa peningkatan ketegangan akan "berdampak bencana bagi semua pihak".
Tekanan AS dan Data Korban Versi LSM
Dalam perkembangan terpisah, pejabat Amerika Serikat meningkatkan retorika terhadap Iran sejak gelombang protes meluas pada akhir Desember akibat memburuknya kondisi ekonomi.
Presiden Donald Trump pada Selasa mengatakan kepada CBS News bahwa Washington akan mengambil "tindakan yang sangat kuat" jika Iran melakukan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik "kerusuhan" dan "terorisme" yang terkait dengan protes tersebut, tuduhan yang dibantah oleh kedua negara.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis angka resmi korban jiwa maupun jumlah tahanan.
Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) memperkirakan sedikitnya 2.500 orang tewas, lebih dari 1.100 orang terluka, dan lebih dari 18.000 orang telah ditahan sejak protes pecah.
Angka-angka tersebut belum diverifikasi secara independen dan berbeda dengan estimasi dari sumber lain.
- Penulis :
- Aditya Yohan








