Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Donald Trump Umumkan Pembentukan Dewan Perdamaian untuk Gaza, Fokus pada Demiliterisasi dan Rekonstruksi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Donald Trump Umumkan Pembentukan Dewan Perdamaian untuk Gaza, Fokus pada Demiliterisasi dan Rekonstruksi
Foto: (Sumber: Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa.)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (15 Januari 2026) mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian untuk Gaza, yang akan ia pimpin langsung sebagai bagian dari upaya internasional dalam mendukung solusi damai di wilayah tersebut.

Dipimpin Trump, Dewan Fokus pada Pemerintahan Teknis dan Rekonstruksi Gaza

Pengumuman resmi disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social.

“Menjadi suatu kehormatan besar bagi saya untuk mengumumkan bahwa DEWAN PERDAMAIAN telah dibentuk,” tulisnya.

Trump menggambarkan dewan tersebut sebagai “Dewan Terhebat dan Paling Bergengsi yang pernah ada,” menandai komitmen kuatnya dalam mendorong resolusi politik terhadap konflik Gaza.

Inisiatif ini mengikuti pernyataan dari Steve Witkoff, utusan khusus Trump, yang sehari sebelumnya mengumumkan bahwa fase kedua dari kesepakatan damai Gaza telah resmi dimulai.

Fase kedua mencakup tiga fokus utama: demiliterisasi Jalur Gaza, pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina, serta rekonstruksi infrastruktur dan layanan publik di wilayah yang terdampak konflik.

Trump akan menjabat sebagai Ketua Dewan Perdamaian tersebut, sebagaimana tercantum dalam dokumen perjanjian damai.

Anggota Dewan Akan Diumumkan, Inisiatif Gaet Dukungan Internasional

Rincian mengenai anggota Dewan Perdamaian akan diumumkan dalam waktu dekat.

Trump menyebut bahwa struktur dewan ini dirancang untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan internasional dengan pendekatan teknokratis, netral, dan terfokus pada stabilitas jangka panjang.

Inisiatif ini diposisikan sebagai bagian dari strategi Trump dalam mendorong solusi politik yang berkelanjutan dan damai di Gaza, sekaligus memperkuat peran Amerika Serikat sebagai aktor utama dalam diplomasi kawasan.

Penulis :
Aditya Yohan