Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Diplomasi Melemah, Pakar Bosnia Peringatkan Bahaya Tatanan Dunia Baru yang Abaikan Hukum Internasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Diplomasi Melemah, Pakar Bosnia Peringatkan Bahaya Tatanan Dunia Baru yang Abaikan Hukum Internasional
Foto: (Sumber: Orang-orang ikut serta dalam protes terhadap rencana AS mengenai Greenland di Kopenhagen, Denmark, Rabu (14/1/2026). ANTARA/Xinhua/Liu Zhichao/aa.)

Pantau - Slobodan Soja, sejarawan sekaligus mantan diplomat Bosnia, memperingatkan bahaya melemahnya peran diplomasi global di tengah menguatnya politik kekuasaan dan kepentingan ekonomi multinasional, dengan Greenland sebagai titik sorotan terbaru.

Soja menyebut situasi ini sebagai bentuk "erosi diplomasi" yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.

Greenland, Sistem Koboi, dan Melemahnya Norma Global

Soja menyoroti fenomena negara kuat yang secara terbuka menyatakan niat untuk bertindak sepihak terhadap wilayah lain tanpa memperhitungkan norma diplomatik.

"Sangat mengkhawatirkan ketika seseorang secara terbuka menyatakan akan masuk ke suatu negara dan melakukan apa pun yang diinginkan," ungkapnya.

Fenomena ini disebutnya sebagai "sistem koboi", yang menurutnya merupakan gabungan kehendak pemimpin politik dan tekanan dari kekuatan ekonomi global di balik institusi negara.

Ia menyoroti tindakan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali menyampaikan niat untuk menguasai Greenland, dari mulai tawaran membeli hingga kini mempertimbangkan opsi militer.

"Apa yang terjadi di Greenland mencerminkan tren yang terjadi di tempat lain," jelasnya.

Soja menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Namun, menurutnya, komunitas internasional tampak tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan kebijakan sepihak semacam itu.

Uni Eropa Dinilai Bingung dan Tak Bertindak

Menanggapi sikap Uni Eropa (UE), Soja menyebutnya sebagai tanda kebingungan strategis.

"UE tidak tahu harus berbuat apa," katanya.

Ia memperkirakan jika Greenland benar-benar diambil alih, reaksi UE hanya sebatas protes simbolis tanpa tindakan nyata.

Ia juga mengkritik standar ganda UE, yang menurutnya justru mempercepat kemunduran Eropa sebagai kekuatan global.

Dalam jangka panjang, Eropa diprediksi akan semakin terpinggirkan karena kurangnya otonomi dalam menentukan sikap strategis.

Greenland Sebagai Simbol Tatanan Dunia Baru

Soja menegaskan bahwa Greenland bukan sekadar isu teritorial, melainkan simbol dari perubahan tatanan dunia yang lebih luas.

Dalam tatanan ini, menurutnya, hukum internasional mulai dilemahkan, diplomasi diabaikan, dan kekuatan ekonomi multinasional menjadi penentu utama hasil politik.

"Erosi diplomasi ini adalah sesuatu yang benar-benar baru dalam sejarah," tegasnya.

Penulis :
Gerry Eka