
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bahwa invasi Amerika Serikat ke Venezuela dan upaya penguasaan cadangan minyak mentah berpotensi menunda investasi energi terbarukan di negara-negara berkembang.
Peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik BRIN, Yogi Setya Permana, menyampaikan penilaian tersebut dalam pernyataan pers di Jakarta pada Senin, 19 Januari 2026.
AS Kuasai Minyak Venezuela, Harga Minyak Dunia Bisa Turun
Menurut Yogi, langkah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan isu penguasaan wilayah strategis seperti Greenland telah menimbulkan kekhawatiran mengenai komitmen terhadap keadilan iklim global, terutama bagi negara-negara berkembang atau Global South.
"Amerika Serikat berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia dengan lebih dari 300 miliar barel," ungkapnya.
Yogi menjelaskan bahwa penguasaan tersebut berpotensi membuat harga minyak mentah dunia semakin melandai.
Situasi harga minyak yang rendah dan ketersediaan pasokan minyak yang murah dapat menghambat pertumbuhan investasi pada sektor energi terbarukan.
Negara Berkembang Paling Terpukul Dampak Perubahan Iklim
Ia menambahkan bahwa kondisi ini berisiko memperpanjang ketergantungan negara-negara berkembang terhadap bahan bakar fosil.
"Negara-negara berkembang akan menanggung konsekuensi paling berat dari perubahan iklim, meskipun kontribusi historis mereka terhadap emisi global relatif kecil," ia mengungkapkan.
Yogi juga menegaskan bahwa transisi energi global tidak pernah berlangsung di ruang yang netral, melainkan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dan kepentingan global.
- Penulis :
- Leon Weldrick






