
Pantau - Wakil Ketua Parlemen Greenland, Bentiaraq Ottosen, menyatakan bahwa kemerdekaan Greenland masih belum realistis dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan karena alasan ekonomi dan demografi.
Pernyataan ini disampaikan Ottosen dalam wawancara dengan media Rusia, RIA Novosti.
"Kemerdekaan Greenland mungkin tidak nyata dalam lima atau sepuluh tahun lagi," ungkapnya.
Greenland Dinilai Belum Siap Secara Ekonomi dan Demografi
Ottosen menjelaskan bahwa populasi Greenland yang hanya sekitar 56.000 jiwa menjadi salah satu faktor utama yang membuat kemerdekaan belum memungkinkan.
Sementara itu, Denmark sebagai negara induk memiliki populasi sekitar 5 juta jiwa.
Ia menyebut Greenland sebagai "terlalu kecil di negara yang luas", menggambarkan ketimpangan skala yang ada.
Ottosen menambahkan bahwa Greenland perlu tetap berada dalam perbatasan Denmark karena hubungan yang sangat erat antara kedua pihak.
Ia menekankan bahwa isu kemerdekaan Greenland merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa diputuskan begitu saja, dan harus mempertimbangkan masa depan rakyat Greenland secara menyeluruh.
Respon Terhadap Ketertarikan Amerika Serikat
Greenland saat ini merupakan wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark.
Isu kemerdekaan Greenland kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menyatakan ketertarikannya agar Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Menanggapi hal tersebut, baik otoritas Denmark maupun Greenland telah menyampaikan penolakan secara tegas.
Mereka memperingatkan pemerintah Amerika Serikat untuk tidak mencoba merebut Greenland, serta menegaskan pentingnya menghormati integritas teritorial mereka.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







