Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Klaim Iran Ingin Berunding Setelah AS Kirim Kapal Induk ke Timur Tengah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Klaim Iran Ingin Berunding Setelah AS Kirim Kapal Induk ke Timur Tengah
Foto: (Sumber: Kapal induk Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) memisahkan diri dari kapal pendukung tempur cepat USNS Arctic (T-AOE 8) setelah sebuah pengisian ulang di Laut Mediterania dalam foto yang tanggal 29 april 2019 yang disediakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. ANTARA FOTO/U.S. NavyMAss Communication Specialist 3rd Class Garrett LaBarge/Handout via REUTERS/wsj/cfo.)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan dengan AS setelah Washington mengerahkan tambahan kekuatan militer ke kawasan Timur Tengah, termasuk satu gugus tempur kapal induk.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Axios pada Senin, 26 Januari 2026.

Trump mengatakan bahwa situasi di Iran sedang "berubah-ubah", mengacu pada dinamika internal yang terjadi belakangan ini.

Pengerahan Armada Militer dan Tekanan Diplomatik

Trump menyebutkan kedatangan "armada besar" di dekat Iran, merujuk pada pengerahan Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut.

Kapal induk kelas Nimitz itu dikerahkan untuk "meningkatkan keamanan dan stabilitas regional", menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui platform media sosial X.

Trump mengklaim bahwa Iran telah menghubungi AS beberapa kali untuk berunding.

"Mereka ingin membuat kesepakatan sekarang. Saya tahu itu. Mereka menghubungi beberapa kali untuk berunding," ungkapnya.

Gejolak Internal Iran dan Ketegangan Internasional

Iran sendiri tengah menghadapi gelombang protes yang dimulai sejak 28 Desember lalu di Grand Bazaar, Teheran.

Aksi protes dipicu oleh depresiasi tajam mata uang rial dan memburuknya kondisi ekonomi negara tersebut.

Unjuk rasa kemudian meluas ke berbagai kota lain di Iran.

Trump sebelumnya mengancam akan "menindak keras" jika para demonstran menjadi korban kekerasan, namun kemudian melunakkan retorikanya dengan menyatakan bahwa Teheran telah membatalkan ratusan eksekusi yang sebelumnya direncanakan.

Di sisi lain, pejabat Iran menuduh AS dan Israel sebagai pendukung kelompok "perusuh bersenjata" yang memicu kekacauan.

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap serangan dari AS akan direspons dengan tindakan "cepat dan komprehensif".

Pada bulan Juni lalu, Israel dengan dukungan AS melancarkan perang selama 12 hari melawan Iran.

Iran membalas serangan tersebut dengan pesawat tak berawak dan rudal.

Setelah eskalasi memuncak, Washington mengumumkan gencatan senjata menyusul serangan balasan dari pihak Teheran.

Penulis :
Ahmad Yusuf