
Pantau - Indonesia menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan merupakan alat untuk mencari popularitas sesaat, melainkan bagian dari garis kebijakan luar negeri yang telah dijalankan secara konsisten sejak lama.
Sikap pro-Palestina Indonesia bukanlah strategi kampanye politik, melainkan fondasi sejarah dan moral yang sudah melekat dalam identitas bangsa.
Bahkan ketika isu Palestina tidak lagi menjadi perhatian utama dunia atau viral di media sosial, posisi Indonesia tetap tidak berubah.
Komitmen Historis dan Moral Indonesia terhadap Palestina
Dukungan terhadap Palestina telah ada bahkan sebelum Indonesia secara resmi merdeka sebagai negara.
Bagi Indonesia, isu Palestina bukan sekadar isu luar negeri biasa, tetapi telah tertanam dalam ingatan kolektif nasional sebagai perjuangan yang mencerminkan nilai keadilan.
Setiap langkah diplomatik Indonesia dalam isu ini dianggap sebagai refleksi dari konsistensi, bukan sekadar aktivitas diplomasi simbolik.
Meski demikian, pemerintah menyadari bahwa dunia internasional saat ini lebih banyak digerakkan oleh logika kekuatan, kepentingan, dan transaksi.
Negara yang hanya mengandalkan idealisme tanpa strategi akan mudah tersingkir dari perundingan global.
Karena itu, Indonesia harus menjaga idealisme sekaligus cermat dalam menavigasi kepentingan strategis di forum-forum internasional.
Mendukung Palestina tetap menjadi soal prinsip, namun bertahan di arena global juga memerlukan pendekatan realistis.
Kedua hal ini bisa saja saling menguji, tetapi tidak selalu berarti bertentangan.
Keterlibatan Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza Dinilai sebagai Strategi Aktif
Masuknya Indonesia ke dalam Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk oleh Amerika Serikat sempat menimbulkan kekhawatiran sejumlah pihak.
Sebagian menganggap langkah ini sebagai bentuk pelunakan sikap terhadap Palestina.
Namun pemerintah menilai bahwa ketidakhadiran justru bisa lebih berbahaya karena membiarkan narasi dikendalikan sepenuhnya oleh pihak lain.
Dengan terlibat secara aktif, Indonesia dapat mempengaruhi arah diskusi dan menyuarakan bahwa perdamaian tidak cukup hanya dengan gencatan senjata, tetapi juga harus mencakup keadilan dan pengakuan hak politik rakyat Palestina.
Tanpa suara-suara prinsipil seperti ini, forum internasional akan menjadi ruang teknokratis tanpa dimensi moral.
Kehadiran Indonesia di forum tersebut justru bertujuan menjaga idealisme agar tetap hidup dalam proses yang nyata.
Sejarah telah membuktikan bahwa banyak gagasan mulia gagal karena tidak memiliki saluran politik untuk diperjuangkan.
Indonesia mencoba menggunakan saluran itu demi memastikan prinsip tetap menjadi bagian dari agenda global.
Pemerintah juga menyadari bahwa sebagai negara yang bukan adidaya, kekuatan Indonesia dibangun melalui konsistensi, kredibilitas, dan reputasi jangka panjang.
Sikap pro-Palestina Indonesia diperkuat oleh perannya sebagai jembatan bagi negara-negara Global South.
Banyak negara berkembang melihat Indonesia sebagai suara moderat yang tidak emosional, tetapi juga tidak tunduk.
Modal politik ini menjadi sangat penting dalam membangun diplomasi yang berimbang dan berpengaruh di tengah dinamika global.
- Penulis :
- Aditya Yohan







