
Pantau - Hamas menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepakatan gencatan senjata setelah jenazah sandera terakhir asal Israel, Ran Gvili, dipulangkan dari Jalur Gaza ke Israel.
Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa gerakan tersebut "akan terus mematuhi seluruh aspek kesepakatan itu", termasuk mendukung pekerjaan komite teknokratik yang mengelola urusan di Gaza, ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Qassem juga mendesak para mediator internasional, termasuk Amerika Serikat, untuk "memaksa Israel agar menghentikan pelanggarannya terhadap kesepakatan itu dan memenuhi kewajibannya", ia mengungkapkan.
Jenazah Ran Gvili Dipulangkan
Militer Israel mengumumkan bahwa jenazah Ran Gvili (24), anggota unit patroli elite Yasam dari Kepolisian Israel, telah berhasil dipulangkan.
Gvili tewas pada 7 Oktober 2023, dan jenazahnya dibawa ke Gaza setelah peristiwa tersebut.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pasukan Israel saat ini tengah dalam perjalanan membawa jenazah Gvili kembali ke Israel untuk dimakamkan.
Netanyahu menyebut pemulangan jenazah ini sebagai "pencapaian besar" bagi Pasukan Pertahanan Israel (IDF), saat berbicara kepada wartawan.
IDF menyatakan, "menyusul rampungnya proses identifikasi oleh Institut Kedokteran Forensik Nasional, perwakilan IDF mengabarkan kepada keluarga almarhum, Sersan Satu Ran Gvili, bahwa orang yang mereka kasihi telah diidentifikasi dan akan dipulangkan untuk dimakamkan."
Fase Pertama Gencatan Senjata Selesai
Dalam pernyataan resminya, IDF juga menegaskan bahwa "dengan demikian, semua sandera telah dipulangkan dari Jalur Gaza ke Negara Israel."
Pengumuman ini datang sehari setelah Israel menyatakan telah meluncurkan "operasi berskala besar" di sebuah pemakaman di Gaza utara untuk menemukan jenazah Gvili, berdasarkan informasi intelijen.
Menurut Hamas, seluruh warga Israel yang sebelumnya disandera kini telah dipulangkan, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal dunia.
Pemulangan para sandera ini merupakan bagian dari fase pertama kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir.
Kesepakatan tersebut mulai diberlakukan sejak Oktober 2025 dan menjadi langkah awal dalam upaya meredakan konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.
- Penulis :
- Leon Weldrick







