Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Putra Mahkota Saudi Tegaskan Tolak Wilayahnya Digunakan untuk Serangan ke Iran, Serukan Dialog dan Stabilitas Regional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Putra Mahkota Saudi Tegaskan Tolak Wilayahnya Digunakan untuk Serangan ke Iran, Serukan Dialog dan Stabilitas Regional
Foto: (Sumber: Jet tempur F-35 US Air Force. ANTARA/Anadolu/aa..)

Pantau - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun wilayah teritorialnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran oleh pihak mana pun.

Komitmen Arab Saudi pada Kedaulatan dan Dialog Regional

Pernyataan ini disampaikan dalam percakapan telepon antara Mohammed bin Salman dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Saudi (SPA) pada Selasa.

Bin Salman menegaskan bahwa Kerajaan Arab Saudi menghormati kedaulatan Republik Islam Iran.

"tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya digunakan dalam aksi militer apa pun terhadap Iran oleh pihak mana pun, terlepas dari tujuannya," ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Arab Saudi mendukung penyelesaian perselisihan melalui dialog untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan kawasan.

Iran Kritik AS dan Israel, Tegaskan Siap Dialog Damai

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan dari negara-negara Islam kepada Iran, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan militer AS terhadap Teheran.

"Kebijakan berprinsip pemerintah Republik Islam Iran didasarkan pada pelestarian persatuan dan kohesi etnis dan sekte serta penguatan solidaritas nasional," ungkap Pezeshkian.

Ia menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim.

"Saya sepenuh hati percaya bahwa umat Islam dan negara-negara Islam adalah saudara, dan saya sangat yakin bahwa bersama-sama dan melalui kerja sama, kita dapat membangun kawasan yang aman, maju, dan berkembang bagi rakyat," katanya.

Pezeshkian juga mengkritik kebijakan bermusuhan Amerika Serikat dan Israel, yang dituduhnya memicu konflik serta mendukung kerusuhan di Iran.

"Mereka mengira dengan tindakan ini, mereka dapat mengubah Iran menjadi Suriah atau Libya, tanpa menyadari bahwa mereka tidak memahami realitas, sifat, dan kebesaran rakyat Iran," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa "kehadiran luas dan sadar bangsa Iran" telah menggagalkan rencana tersebut.

Lebih lanjut, Pezeshkian menyebut bahwa Iran telah melakukan dialog dengan AS, namun justru mendapat serangan.

"Kami sedang berdialog dengan Amerika ketika, di hadapan seluruh dunia, mereka melancarkan serangan militer terhadap kami… Dalam interaksi dengan negara-negara Eropa, kami mencapai kesepakatan dan konsensus, tetapi Amerika-lah yang melanggarnya dan tidak mendukungnya," tegasnya.

Meski demikian, Iran tetap membuka pintu untuk proses damai.

Pezeshkian menyatakan bahwa Iran siap menyambut setiap upaya menuju perdamaian dan penghindaran konflik, "dalam kerangka hukum internasional dan sambil sepenuhnya menjaga dan menghormati hak-hak bangsa dan negara."

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa semua opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka terhadap Iran, seiring dengan upaya AS dan Israel untuk mengubah sistem pemerintahan di Teheran.

Pejabat Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan dari Amerika akan dibalas dengan respons yang "cepat dan komprehensif".

Penulis :
Ahmad Yusuf