Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

PBB Akui Belum Terima Informasi Pembukaan Penyeberangan Rafah Meski Ada Laporan Pembukaan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

PBB Akui Belum Terima Informasi Pembukaan Penyeberangan Rafah Meski Ada Laporan Pembukaan
Foto: Arsip - Petugas Bulan Sabit Merah Mesir berdiri di dekat truk yang membawa bantuan kemanusiaan saat memasuki Gaza dari sisi Mesir di pintu perlintasan Rafah 12/10/2025 (sumber: Xinhua/Ali Mostafa)

Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan belum menerima informasi resmi terkait pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir, meski sejumlah laporan menyebutkan adanya rencana pembukaan dari dua arah.

Juru Bicara PBB Stephane Dujarric pada Selasa (27/1) mengatakan bahwa pihaknya masih berkomunikasi dengan otoritas Israel mengenai hal tersebut.

"Tidak… kami terus berhubungan dengan otoritas Israel. Kami sudah melihat berbagai laporan, tetapi kami belum diberikan informasi pastinya," ungkapnya kepada wartawan.

PBB Desak Pembukaan Penyeberangan untuk Kemanusiaan

Dujarric menegaskan bahwa PBB sangat ingin penyeberangan Rafah dibuka kembali untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan serta memberikan akses keluar-masuk bagi warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

Sebelumnya, Kepala Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, Ali Shaath, menyatakan bahwa penyeberangan Rafah akan segera dibuka dari dua arah, namun belum ada tindak lanjut konkret dari pernyataan tersebut.

AS Dorong Transisi Pascagencatan Senjata

Pada awal Januari lalu, utusan khusus Presiden Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengumumkan tahap kedua dari 20-point plan atau rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza.

Tahap kedua itu mencakup fokus pada transisi pascagencatan senjata menuju proses demiliterisasi, pembentukan pemerintahan teknokratis, serta upaya rekonstruksi wilayah Gaza.

Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai realisasi pembukaan penyeberangan Rafah yang menjadi jalur vital keluar-masuk bantuan dan penduduk Gaza.

Penulis :
Arian Mesa