
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai memiliki insting yang tepat mengenai bahaya senjata nuklir dan pentingnya perundingan denuklirisasi, namun dinilai belum menunjukkan strategi yang jelas dalam kebijakan pengendalian senjata. Pandangan ini disampaikan oleh Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Arms Control Association.
Insting Benar, Tapi Strategi Minim
“Trump tampaknya memiliki insting yang tepat bahwa senjata nuklir terlalu banyak, perang nuklir harus dihindari, biayanya sangat besar, dan perundingan denuklirisasi diperlukan,” ujar Kimball.
Namun, ia menilai bahwa pemerintahan Trump belum menjadikan diplomasi pengendalian senjata sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya.
Menurutnya, pengendalian risiko nuklir seharusnya menjadi agenda terpenting karena menyangkut potensi kehancuran berskala besar jika tidak dikelola dengan baik.
Masa Depan New START Jadi Sorotan
Perjanjian pengendalian senjata antara Amerika Serikat dan Rusia, New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), dijadwalkan akan berakhir pada 5 Februari 2026.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia bersedia mematuhi batasan-batasan dalam perjanjian tersebut selama satu tahun setelah masa berlakunya habis, dengan catatan Amerika Serikat mengambil langkah timbal balik.
Putin menegaskan bahwa kepatuhan Rusia hanya akan berlaku jika Washington juga menunjukkan komitmen serupa.
Beberapa laporan media menyebut bahwa Trump menyambut baik inisiatif Rusia tersebut dan menganggapnya sebagai “ide yang baik”.
Namun, hingga 29 Januari, menurut Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat atas usulan tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







