Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Lebih 700 Kapal Tanker Antre, Aliran Minyak di Selat Hormuz Anjlok 86 Persen

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Lebih 700 Kapal Tanker Antre, Aliran Minyak di Selat Hormuz Anjlok 86 Persen
Foto: (Sumber : Pemandangan di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am..)

Pantau - Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz turun hingga 86 persen pada 1 Maret 2026 setelah meningkatnya risiko keamanan menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Lebih dari 700 kapal tanker tercatat berkumpul di kedua sisi jalur strategis yang terletak di mulut Teluk Persia dan menghubungkan produksi minyak serta gas alam cair Timur Tengah ke pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia atau sekitar 20 juta barel melintasi koridor tersebut.

Volume Pengiriman Anjlok Tajam

Berdasarkan analisis perusahaan data Kpler, pada 27 Februari sebanyak 21 juta barel minyak diangkut oleh 15 kapal tanker, kemudian meningkat menjadi 21,6 juta barel oleh 18 kapal tanker pada Sabtu.

Namun pada 1 Maret hanya tiga kapal tanker yang membawa 2,8 juta barel melintasi selat tersebut.

Dengan rata-rata aliran harian sepanjang 2026 sebesar 19,8 juta barel, pengiriman 1 Maret mencatat penurunan 86 persen dibandingkan rata-rata tahun berjalan.

Penurunan ini menunjukkan pengiriman sempat dipercepat sebelum risiko meningkat lalu hampir terhenti ketika situasi memburuk.

Hingga kini, 706 kapal tanker non-Iran menunggu di kedua sisi selat, terdiri atas 334 kapal tanker minyak mentah, 109 kapal pengangkut produk minyak kotor, dan 263 kapal pengangkut produk minyak bersih di Teluk Persia, Teluk Oman, serta Laut Arab.

Risiko Keamanan dan Dampak Global

Situasi memanas setelah operator kapal menghentikan penyeberangan akibat lonjakan biaya asuransi di tengah eskalasi konflik.

Aktivitas pemuatan minyak mentah di dalam Teluk masih berlangsung, namun berkurangnya keberangkatan ke arah timur dan waktu tunggu lebih lama diperkirakan menunda kedatangan kargo serta mendorong kenaikan biaya angkut.

Perlambatan arus keluar dan antrean panjang kapal berpotensi mengganggu rantai pasok dan meningkatkan biaya transportasi global.

Setelah serangan gabungan tersebut, muncul laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran mengirim pesan melalui frekuensi panggilan dan darurat internasional VHF Channel 16 bahwa tidak ada kapal yang akan diizinkan melintas, meski belum ada pernyataan resmi mengenai penutupan formal selat.

Media Iran mengklaim Selat Hormuz secara efektif telah ditutup, sementara sejumlah kapal kontainer terlihat berbalik arah dan beberapa perusahaan pelayaran dunia menghentikan pelayaran melalui selat akibat meningkatnya risiko keamanan.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations menyatakan tingkat keamanan maritim di Selat Hormuz telah dinaikkan ke level kritis atau kategori risiko tertinggi setelah dipastikan adanya beberapa serangan terhadap kapal komersial di Teluk Oman dekat Musandam serta di perairan pesisir Uni Emirat Arab.

Penulis :
Ahmad Yusuf