
Pantau - Amerika Serikat dilaporkan kehilangan peralatan militer senilai hampir 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,7 triliun dalam operasi militernya terhadap Iran sejak Sabtu 28 Februari 2026.
Data tersebut merupakan estimasi yang dihimpun oleh kantor berita Anadolu berdasarkan berbagai laporan dan sumber intelijen terbuka.
Kontributor terbesar kerugian tersebut berasal dari sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.
Nilai sistem radar tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,6 triliun.
Pihak Qatar mengonfirmasi radar tersebut mengalami kerusakan setelah terkena serangan rudal Iran.
Pada Minggu 1 Maret 2026, tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat juga hilang akibat insiden salah tembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
Keenam awak pesawat dilaporkan selamat dari insiden tersebut.
Namun ketiga pesawat tempur tersebut hancur dan biaya penggantiannya diperkirakan mencapai sekitar 282 juta dolar AS atau sekitar Rp4,7 triliun.
Serangan ke Fasilitas Militer AS di Kawasan Teluk
Iran juga dilaporkan menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama, Bahrain pada serangan pembuka Sabtu 28 Februari 2026.
Serangan tersebut menghancurkan dua terminal komunikasi satelit serta sejumlah bangunan besar di kompleks militer tersebut.
Berdasarkan laporan intelijen sumber terbuka, terminal komunikasi satelit yang dihantam diidentifikasi sebagai AN/GSC-52B.
Nilai terminal tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20 juta dolar AS atau sekitar Rp337 miliar termasuk biaya instalasi dan penempatan.
Iran juga mengklaim telah menghancurkan komponen radar AN/TPY-2 dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik THAAD yang ditempatkan di Kota Industri Al Ruwais, Uni Emirat Arab.
Citra satelit dari laporan intelijen sumber terbuka menunjukkan adanya serangan terhadap fasilitas tersebut.
Nilai komponen radar yang rusak diperkirakan mencapai sekitar 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,4 triliun.
Jika seluruh kerusakan tersebut digabungkan, nilai aset militer Amerika Serikat yang rusak diperkirakan mencapai sekitar 1,902 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun.
Kedutaan Besar AS di Beberapa Negara Turut Diserang
Iran dilaporkan menargetkan sedikitnya tujuh lokasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah sejak Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran.
Lokasi tersebut meliputi markas Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain.
Selain itu juga Camp Arifjan, Pangkalan Udara Ali Al Salem, dan Camp Buehring di Kuwait.
Target lainnya adalah Pangkalan Erbil di Irak.
Iran juga menargetkan Pelabuhan Jebel Ali di Uni Emirat Arab yang merupakan pelabuhan persinggahan terbesar Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Sasaran lainnya adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Selain fasilitas militer, misi diplomatik Amerika Serikat di Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, terkena dua serangan drone.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan "kebakaran terbatas dan kerusakan kecil material" pada kompleks tersebut.
Menurut laporan The Washington Post, stasiun CIA yang berada di dalam kompleks tersebut juga terdampak.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait City juga diserang dengan drone dan rudal.
Serangan tersebut digambarkan sebagai serangan "brutal" oleh pejabat Kuwait.
Asap terlihat di sekitar kompleks kedutaan meski rincian kerusakan masih terbatas dalam laporan publik.
Kedutaan tersebut kemudian ditutup "hingga pemberitahuan lebih lanjut".
Staf non-esensial serta keluarga mereka telah dievakuasi dari kompleks kedutaan tersebut.
Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Dubai, Uni Emirat Arab juga terkena serangan drone yang diduga milik Iran.
Drone tersebut menghantam area parkir di dekat gedung konsulat.
Kebakaran sempat terjadi namun berhasil dipadamkan oleh otoritas setempat.
Area konsulat terdampak serangan meski tidak dilaporkan adanya kerusakan struktural besar pada bangunan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








