Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Ancam Amerika Serikat dengan “Banyak Kejutan”, Ketegangan Pasca Serangan Gabungan Kian Memanas

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Iran Ancam Amerika Serikat dengan “Banyak Kejutan”, Ketegangan Pasca Serangan Gabungan Kian Memanas
Foto: (Sumber : Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menghadiri konferensi pers bersama di Teheran, Iran, pada 18 Januari 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati.)

Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan untuk Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Senin 9 Maret melalui unggahan di platform media sosial X.

Ia menyoroti kesiapan Iran dalam menghadapi berbagai rencana atau plot yang disebut tengah disiapkan oleh Amerika Serikat.

"Kami memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan," ungkap Araghchi.

Sindir Operasi Militer Amerika Serikat

Araghchi juga mengejek nama sandi operasi militer Amerika Serikat yang disebut Operasi Epic Fury.

Ia menyebut operasi tersebut sebagai Operasi Kesalahan Epik.

Menurutnya sembilan hari setelah operasi tersebut dimulai dampaknya justru terlihat pada lonjakan harga minyak dan berbagai komoditas global.

"Harga minyak naik menjadi dua kali lipat sementara semua komoditas melonjak tajam," ujarnya.

Araghchi juga menyatakan bahwa Iran mengetahui rencana Amerika Serikat untuk menyerang fasilitas minyak dan nuklir Iran.

"Kami tahu AS sedang merencanakan serangan terhadap situs-situs minyak dan nuklir kami dengan harapan dapat menahan guncangan inflasi besar-besaran," katanya.

Ia menegaskan bahwa Iran telah mempersiapkan diri sepenuhnya untuk menghadapi situasi tersebut.

"Iran sepenuhnya siap. Dan kami juga memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan," tegasnya.

Konflik Memicu Kekhawatiran Pasar Energi Global

Sebelumnya pada 28 Februari Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lain di Iran.

Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Selain itu sejumlah komandan militer senior dan warga sipil juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone.

Serangan balasan Iran menargetkan pangkalan militer Israel dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Konflik tersebut memicu dampak regional yang lebih luas serta meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan ekspor minyak dunia.

Risiko juga muncul terhadap pasar energi global terutama terkait jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Penulis :
Aditya Yohan