
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan melonggarkan sejumlah sanksi minyak terhadap beberapa negara guna meningkatkan pasokan dan menekan harga minyak global.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin, 9 Maret, dalam konferensi pers di Washington.
Ia mengatakan pemerintah Amerika Serikat akan mencabut beberapa pembatasan yang selama ini menghambat ekspor minyak dari negara tertentu.
"Kami juga mencabut berbagai sanksi terkait minyak untuk menurunkan harganya. Jadi, kami memiliki sanksi di beberapa negara dan kami akan mencabut sanksi-sanksi tersebut sampai situasi membaik", ungkapnya.
Trump juga menyatakan bahwa terdapat kemungkinan sanksi tersebut tidak akan diberlakukan kembali setelah dicabut.
Ia menilai kondisi internasional berpotensi membaik sehingga perdamaian dapat dipulihkan dalam waktu mendatang.
Upaya Menekan Kenaikan Harga Minyak
Trump menjelaskan kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pemerintah Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas harga minyak dunia.
Ia menilai harga minyak sebelumnya meningkat secara tidak alami setelah dimulainya operasi militer terhadap Iran.
"Kami berupaya untuk menjaga harga minyak tetap rendah. Harga minyak naik secara artifisial karena upaya ini merupakan hal yang sangat positif. Maksud saya, ini adalah upaya yang tidak akan dilakukan banyak orang. Saya tahu harga minyak akan naik jika saya melakukan ini, dan mungkin kenaikannya lebih kecil dari yang saya perkirakan, tetapi saya rasa kita tidak akan berhasil secepat ini. Ini adalah keberhasilan militer", jelasnya.
Latar Belakang Operasi Militer terhadap Iran
Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran di sejumlah lokasi termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel pada awalnya menyatakan serangan dilakukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran.
Namun kemudian kedua negara tersebut menyampaikan bahwa operasi militer tersebut juga bertujuan mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan terhadap Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Rusia menyerukan agar dilakukan deeskalasi serta penghentian permusuhan secepatnya.
- Penulis :
- Shila Glorya








