
Pantau - Pemerintah Indonesia memastikan keselamatan personel Indonesia yang tergabung dalam Kontingen Garuda di Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL) menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya eskalasi serangan Zionis Israel terhadap Lebanon.
Pemerintah Indonesia terus memantau secara dekat perkembangan situasi keamanan di wilayah tersebut.
Pemantauan juga mencakup dampak situasi terhadap Kontingen Garuda yang saat ini menjalankan misi perdamaian di Lebanon selatan.
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan, "Pemerintah Indonesia terus memantau secara dekat perkembangan situasi serta dampaknya terhadap Kontingen Garuda yang bertugas di UNIFIL."
Kemlu RI menegaskan, "memastikan bahwa keselamatan dan keamanan personel pasukan pemelihara perdamaian menjadi prioritas dalam situasi saat ini."
Apresiasi terhadap Kontingen Garuda
Pemerintah Indonesia juga menyampaikan apresiasi terhadap integritas, profesionalisme, dan dedikasi Kontingen Garuda dalam menjalankan mandat perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kontingen tersebut tetap menjalankan tugas menjaga stabilitas dan perdamaian di Lebanon selatan meskipun menghadapi ancaman keamanan yang meningkat.
Indonesia berharap seluruh anggota Kontingen Garuda di UNIFIL dapat terus memperoleh perlindungan dan keselamatan selama menjalankan tugas.
Indonesia juga menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan yang tidak hanya terjadi di sepanjang garis demarkasi Blue Line di Lebanon selatan.
Ketegangan juga dilaporkan terjadi hingga di Beirut yang merupakan ibu kota Lebanon.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional seluruh pihak bertanggung jawab menjamin keselamatan personel dan properti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tanggung jawab tersebut berlaku di seluruh wilayah termasuk Lebanon.
Indonesia Kecam Serangan Israel
Pemerintah Indonesia mengecam keras peningkatan serangan Israel terhadap Lebanon yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Ketegangan terbaru dipicu setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Setelah itu kelompok Syiah Lebanon Hizbullah melancarkan serangan terhadap sejumlah titik militer Zionis pada 2 Maret.
Serangan tersebut kemudian dibalas oleh militer Zionis Israel pada hari yang sama.
Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon juga dilaporkan menyebabkan korban dari kalangan personel UNIFIL dari berbagai negara.
Pada 7 Maret 2026 sejumlah personel militer Ghana yang bertugas di UNIFIL dilaporkan terluka akibat serangan Israel di Lebanon selatan.
Insiden serupa kembali terjadi pada 14 Maret 2026 ketika markas batalion Nepal dilaporkan terkena tembakan artileri Zionis Israel.
Indonesia menyatakan keprihatinan atas serangan terhadap pos UNIFIL tersebut yang menyebabkan sejumlah personel pasukan penjaga perdamaian mengalami cedera.
- Penulis :
- Gerry Eka







