Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Pasukan Internasional Termasuk 5.000 Personel Indonesia Dijadwalkan Dikerahkan ke Gaza Mulai Mei 2026

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pasukan Internasional Termasuk 5.000 Personel Indonesia Dijadwalkan Dikerahkan ke Gaza Mulai Mei 2026
Foto: (Sumber: Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan paparan dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.)

Pantau - Pasukan internasional untuk Jalur Gaza yang mencakup personel dari Indonesia dilaporkan akan mulai diterjunkan pada 1 Mei 2026 sebagai bagian dari tahap lanjutan rencana pemulihan Gaza.

Penerjunan pasukan tersebut merupakan implementasi tahap selanjutnya dari rencana pemulihan Gaza yang dirancang Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Media publik Israel KAN melaporkan pasukan stabilisasi internasional atau International Stabilization Force akan mulai beroperasi di Gaza pada tanggal tersebut.

Pasukan tersebut terdiri dari sekitar 5.000 personel dari Indonesia serta puluhan personel dari Kazakhstan, Maroko, Albania, dan Kosovo.

Pasukan akan terlebih dahulu dikerahkan di sekitar kota Palestina di wilayah Rafah di Gaza selatan.

Wilayah Rafah tersebut diketahui telah dibangun kembali dengan dukungan Uni Emirat Arab.

Penempatan Bertahap di Jalur Gaza

Setelah penempatan awal di Rafah, pasukan internasional akan disebarkan secara bertahap ke wilayah lain di Jalur Gaza.

Delegasi militer dari negara peserta pasukan internasional diperkirakan tiba di Israel dalam dua pekan untuk melakukan pemantauan di Gaza.

Pemantauan tersebut dilakukan sebagai persiapan sebelum pasukan diterjunkan secara resmi.

Personel pasukan internasional nantinya akan ditempatkan hingga di dekat garis kuning.

Garis kuning merupakan batas sementara di Gaza yang menandai wilayah keberadaan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.

Batas tersebut memisahkan wilayah yang masih diduduki Israel dengan wilayah yang dapat ditempati warga Palestina di Gaza.

Laporan tersebut juga menyebut ratusan personel asing akan dikirim ke Yordania pada bulan berikutnya untuk menjalani pelatihan.

Pelatihan tersebut dilakukan sebelum mereka diterjunkan ke Gaza sebagai bagian dari pasukan internasional.

Bagian dari Rencana Perdamaian Gaza

Pada 16 Januari Gedung Putih mengumumkan struktur pemerintahan transisional di Gaza.

Struktur tersebut mencakup Dewan Perdamaian, dewan eksekutif Gaza, Komite Nasional Administrasi Gaza, serta pasukan stabilisasi internasional.

Pasukan tersebut akan bertugas mengawasi operasi keamanan di Gaza.

Selain itu pasukan juga akan melucuti kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Pasukan juga bertugas memastikan kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan serta material rekonstruksi infrastruktur.

Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi tahap kedua Rencana 20 Poin Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Rencana tersebut didukung oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi 2803 pada 17 November 2025.

Pada 6 Maret Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan kemungkinan Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian apabila badan tersebut tidak mendukung kemerdekaan Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan saat berdialog dengan lebih dari 160 cendekiawan dan pemuka agama Islam di Istana Kepresidenan Jakarta.

Proses perdamaian di Gaza berlangsung setelah kesepakatan gencatan senjata yang tercapai pada 10 Oktober 2025.

Konflik selama dua tahun di Jalur Gaza menyebabkan lebih dari 72.000 warga Palestina meninggal dunia.

Sekitar 171.000 orang lainnya dilaporkan mengalami cedera akibat konflik tersebut.

Agresi tersebut juga diperkirakan menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya pemulihan wilayah Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar Amerika Serikat.

Penulis :
Gerry Eka