
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kesiapan untuk meningkatkan peran dalam membantu penyelesaian krisis di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan organisasinya ingin berkontribusi menciptakan stabilitas dengan membuka peluang pemulihan kondisi jalur strategis tersebut seperti sebelumnya.
Ia mengungkapkan, "Tujuan utama saya adalah melihat apakah memungkinkan menciptakan kondisi di Selat Hormuz seperti yang pernah ada sebelumnya. Tentu konteksnya berbeda dan solusinya juga akan berbeda, tetapi kami ingin berperan dan siap mengelola sistem tersebut."
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Politico yang dipublikasikan pada Sabtu.
Upaya Diplomasi dan Kerja Sama Internasional
PBB saat ini bekerja sama dengan negara-negara Teluk untuk meredakan situasi yang terus memanas di kawasan tersebut.
Selain itu, organisasi tersebut juga menjalin komunikasi dengan Dewan Eropa guna mencari solusi bersama atas krisis yang berpotensi berdampak global.
Guterres sebelumnya juga menyerukan kepada Israel dan Amerika Serikat untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran demi mencegah eskalasi konflik lebih luas.
Ia mengatakan kepada wartawan, "Sudah saatnya supremasi hukum mengalahkan hukum kekuatan. Sudah saatnya diplomasi mengalahkan perang."
Pernyataan itu disampaikan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi para pemimpin Uni Eropa.
Dampak Global dan Seruan Penghentian Konflik
Guterres mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz serta menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Ia menilai negara-negara tersebut tidak terlibat langsung dalam konflik dan "tidak pernah menjadi pihak dalam konflik ini," ungkapnya.
Guterres juga memperingatkan dampak besar jika penutupan jalur tersebut berlangsung lama terhadap masyarakat global.
Ia menegaskan, "Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz menyebabkan penderitaan besar bagi banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada kaitannya dengan konflik ini."
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan signifikan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta target militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel awalnya menyebut serangan tersebut sebagai langkah menghadapi ancaman program nuklir Iran, namun kemudian juga menyatakan keinginan untuk melihat perubahan rezim di negara tersebut.
- Penulis :
- Shila Glorya







