
Pantau - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa Jepang akan melakukan "segala upaya diplomatik yang mungkin" untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Takaichi dalam sidang parlemen Jepang dan dikutip oleh Kyodo News.
Ia menegaskan bahwa Jepang terus bekerja sama dengan komunitas internasional dalam menangani situasi yang berdampak langsung pada stabilitas energi global tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah pertemuan puncaknya dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada pekan sebelumnya.
Dalam pertemuan tersebut, Trump menekankan bahwa "memastikan keamanan Selat Hormuz sangat penting" dan meminta kontribusi dari Jepang serta negara lain.
Trump juga meminta Jepang untuk mengerahkan pasukan angkatan laut guna membantu operasi militer AS dalam membuka jalur strategis tersebut.
Ketergantungan Energi dan Dampak Langsung
Selat Hormuz yang berada di bawah kendali efektif Iran menjadi jalur vital distribusi energi global dan sekitar 90 persen pasokan energi Jepang melewati kawasan tersebut.
Situasi ini membuat kapal-kapal Jepang terdampak langsung sehingga pemerintah mulai melepaskan cadangan minyak strategis untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Takaichi menyatakan bahwa ia memahami pentingnya keselamatan navigasi demi menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Ia juga menjelaskan kepada pihak AS mengenai batasan yang dapat dan tidak dapat dilakukan Jepang sesuai dengan konstitusi negaranya.
Konstitusi Jepang yang menolak perang tidak mengizinkan negara tersebut terlibat dalam pertempuran di luar negeri.
Alternatif Pasokan Energi dan Eskalasi Konflik
Sebagai langkah antisipasi, Jepang sedang mempertimbangkan alternatif pasokan energi dengan "sedang mempertimbangkan untuk membeli" minyak mentah dari Kazakhstan.
Perusahaan Inpex Corp. yang didukung pemerintah Jepang dan memiliki hak atas minyak di Kazakhstan kemungkinan akan mengalihkan sebagian pasokan ke Jepang.
Namun pengiriman minyak dari Kazakhstan diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan jalur melalui Selat Hormuz.
Selain Kazakhstan, Inpex juga mempertimbangkan kerja sama dengan Azerbaijan dan Australia untuk pasokan minyak dan gas.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 1.300 orang termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara lain yang memiliki aset militer AS sehingga menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global serta penerbangan.
Iran juga memberlakukan kontrol atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global dan pasokan utama ke kawasan Asia.
- Penulis :
- Shila Glorya







