
Pantau - Irak menegaskan tidak akan bergabung dalam operasi militer di Selat Hormuz karena dinilai tidak membantu pelayaran dan berisiko memicu reaksi dari Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani pada Senin, 23 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa Irak tidak percaya pada solusi militer untuk mengatasi situasi di kawasan tersebut.
Ia mengungkapkan, "Kami tidak percaya pada solusi militer. Perlindungan bersenjata terhadap kapal akan memprovokasi reaksi dari Iran dan tidak akan berkontribusi pada pelayaran. Oleh karena itu, kami tidak akan berpartisipasi dalam aksi militer apa pun di Teluk Persia,"
Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat
Ketegangan terkait Iran telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Situasi tersebut berdampak pada tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke Selat Hormuz.
Pada 19 Maret, enam negara yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam memastikan jalur aman di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut berbunyi "kesiapan mereka untuk berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui"
Beberapa negara lain kemudian turut bergabung dalam pernyataan tersebut.
Latar Belakang Konflik dan Eskalasi Militer
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran termasuk di Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
- Penulis :
- Shila Glorya







