Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Parlemen Iran Berlakukan Aturan Navigasi Baru di Selat Hormuz dengan Izin Wajib dan Tarif Transit Kapal

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Parlemen Iran Berlakukan Aturan Navigasi Baru di Selat Hormuz dengan Izin Wajib dan Tarif Transit Kapal
Foto: Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran (sumber: Anadolu)

Pantau - Parlemen Iran Resmi Terapkan Aturan Navigasi Baru di Selat Hormuz dengan Izin Wajib dan Tarif Transit

Parlemen Iran akan menerapkan aturan navigasi baru di Selat Hormuz yang mencakup kewajiban izin melintas serta pemberlakuan biaya transit bagi kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.

Kebijakan ini disampaikan oleh anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, pada Senin.

"Dengan persetujuan parlemen, rezim baru akan diberlakukan di selat tersebut," ungkap Boroujerdi.

Iran menegaskan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin resmi dari pemerintah di Teheran.

Pemerintah Iran juga menyatakan akan menjamin keselamatan kapal yang melintas di wilayah tersebut sebagai bagian dari kebijakan baru tersebut.

Selain itu, Iran akan mengenakan tarif transit terhadap setiap kapal yang melewati Selat Hormuz sebagai bentuk pengaturan lalu lintas maritim.

Eskalasi Konflik Picu Kebijakan Baru

Kebijakan ini muncul setelah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran pada 28 Februari.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil di sejumlah wilayah termasuk Teheran.

Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan yang terus meningkat memicu terjadinya blokade de facto di Selat Hormuz.

Dampak Global pada Energi dan Ekonomi

Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Blokade di kawasan tersebut berdampak pada penurunan ekspor dan produksi minyak dari negara-negara di kawasan.

Situasi ini turut memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara akibat terganggunya pasokan energi global.

Penulis :
Leon Weldrick