HOME  ⁄  Geopolitik

Jepang Sambut Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Harap Stabilitas Timur Tengah Menguat

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Jepang Sambut Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Harap Stabilitas Timur Tengah Menguat
Foto: Orang-orang, sambil memegang bendera dan spanduk Palestina dan Lebanon, berbaris dalam protes menentang serangan Israel terhadap Lebanon dan keputusan Knesset, parlemen Israel, untuk memperkenalkan kemungkinan menjatuhkan hukuman mati kepada tahanan Palestina di Milan, Italia, pada 11 April 2026 (sumber: Andrea Carrubba/Anadolu)

Pantau - Pemerintah Jepang menyambut baik kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat sebagai upaya meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.

Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Masanao Ozaki, menyatakan "Kami menyambut baik kesepakatan ini sebagai langkah penting untuk mewujudkan stabilisasi situasi di Timur Tengah", ungkapnya.

Harapan Jepang terhadap Stabilitas Kawasan

Jepang berharap kesepakatan gencatan senjata ini dapat memberikan dampak positif terhadap negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, Tokyo juga menilai langkah tersebut dapat memperkuat perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah yang selama ini dilanda konflik berkepanjangan.

Kronologi dan Sikap Para Pihak

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah sepakat memulai gencatan senjata.

Gencatan senjata tersebut dimulai pada pukul 21:00 waktu setempat dengan tujuan mencapai perdamaian di wilayah konflik.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa militer Israel akan mengendalikan zona penyangga sejauh 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan.

Netanyahu juga menegaskan bahwa ia tidak berniat memenuhi tuntutan dari Hizbullah.

Sebelumnya, konflik antara Israel dan Lebanon telah menyebabkan hampir 2.000 korban jiwa menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Jumlah pengungsi akibat konflik tersebut juga telah melampaui 1,2 juta orang.

Penulis :
Arian Mesa