HOME  ⁄  Geopolitik

Pemimpin Hizbullah Janji Balas Pelanggaran Gencatan Senjata Israel

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pemimpin Hizbullah Janji Balas Pelanggaran Gencatan Senjata Israel
Foto: (Sumber: Seorang pengungsi yang membawa gambar mendiang pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah kembali ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon pada 16 April 2025. Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku tengah malam antara Kamis dan Jumat waktu setempat menyusul pengumuman sebelumnya oleh Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich.)

Pantau - Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menyatakan akan membalas setiap pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, Minggu (19/4/2026).

Qassem menegaskan bahwa gencatan senjata harus berarti penghentian total agresi dari semua pihak.

"Tidak ada gencatan senjata dari satu pihak saja," ujarnya.

Ia menyebut Hizbullah akan merespons jika terjadi pelanggaran oleh Israel.

Dalam pernyataannya, Hizbullah juga menyampaikan lima tuntutan utama, yakni penghentian permanen pertempuran di Lebanon, penarikan penuh pasukan Israel, pembebasan tahanan, kembalinya warga yang mengungsi, serta rekonstruksi dengan dukungan internasional.

Qassem menegaskan kelompoknya belum dikalahkan dan tetap berkomitmen memperjuangkan kemerdekaan Lebanon.

Gencatan senjata berlaku selama 10 hari sejak tengah malam antara 16 dan 17 April 2026, yang dipicu oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Meski demikian, militer Israel dilaporkan masih melakukan operasi di wilayah perbatasan.

Pasukan Israel disebut menyerang militan yang mendekati garis demarkasi serta membangun pos militer baru di dekat Kfarchouba.

Aktivitas tersebut meliputi penggalian dan pembangunan tanggul tanah di area sekitar 1,5 kilometer dari garis perbatasan Lebanon-Israel.

Perkembangan ini menunjukkan situasi keamanan di kawasan masih belum stabil meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata.

Hizbullah juga menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah Lebanon dengan fokus pada persatuan nasional dan kedaulatan negara.

Ketegangan yang terus berlangsung berpotensi memengaruhi stabilitas regional di Timur Tengah.

Penulis :
Gerry Eka