
Pantau - Pemerintah China menyoroti latihan militer gabungan yang melibatkan Filipina, Amerika Serikat, dan Jepang di kawasan Laut China Selatan karena dinilai berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Asia-Pasifik.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Senin 20 April.
Guo Jiakun menyatakan “Dunia sudah cukup banyak menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan oleh unilateralisme dan penyalahgunaan kekuatan militer. Hal yang paling dibutuhkan oleh kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenteraman.”
China Peringatkan Dampak Militerisasi Kawasan
Guo menegaskan bahwa meningkatnya aktivitas militer di kawasan justru berisiko memicu ketegangan dan konfrontasi antarnegara.
Ia mengatakan “Hal terakhir yang tidak dibutuhkan kawasan ini adalah perpecahan dan konfrontasi akibat masuknya kekuatan-kekuatan eksternal. Tidak ada kerja sama militer dan keamanan yang boleh dilakukan dengan mengorbankan saling pengertian dan rasa saling percaya, serta perdamaian dan stabilitas di kawasan ini.”
Guo juga mengingatkan negara-negara yang bergantung pada pihak lain dalam menjaga keamanan nasionalnya.
Ia menambahkan “Bagi negara-negara yang menggantungkan keamanan mereka pada pihak lain, penting untuk senantiasa mengingat bahwa langkah ini sangat mungkin justru akan menjadi bumerang.”
Selain itu, China menyinggung keterlibatan Jepang dengan mengaitkannya pada sejarah agresi masa lalu.
Guo menyatakan “Jepang perlu melakukan introspeksi mendalam dan serius terhadap sejarah agresinya, serta bertindak penuh kehati-hatian baik dalam ucapan maupun tindakan di bidang militer dan keamanan, bukan sebaliknya malah memamerkan kekuatan di Laut Cina Selatan dan merusak stabilitas di kawasan ini.”
Latihan Balikatan Libatkan Ribuan Personel dan Persenjataan Canggih
Latihan militer tahunan Balikatan untuk pertama kalinya melibatkan kontingen Jepang bersama ribuan tentara Amerika Serikat dan Filipina.
Latihan tersebut mencakup simulasi tembakan langsung di wilayah utara Filipina yang menghadap Selat Taiwan serta di provinsi yang berbatasan dengan Laut China Selatan.
Sekitar 1.400 personel militer Jepang dilaporkan menggunakan rudal jelajah Tipe 88 dalam skenario untuk menenggelamkan kapal penyapu ranjau peninggalan era Perang Dunia II di lepas pantai utara Pulau Luzon.
Lebih dari 17.000 personel dari angkatan darat, laut, dan udara terlibat dalam latihan yang berlangsung selama 19 hari tersebut.
Komandan Pasukan Ekspedisi Marinir AS Christian Wortman mengatakan sekitar 10.000 personel AS ikut serta dalam latihan tersebut.
Panglima militer Filipina Romeo Brawner menyebut Balikatan tahun ini sebagai latihan terbesar sepanjang sejarah.
Partisipasi penuh Jepang mengikuti penandatanganan perjanjian akses timbal balik yang disetujui parlemen Jepang pada Juni sebelumnya.
Kolonel Takeshi Higuchi mengatakan latihan tersebut akan berkontribusi pada terciptanya lingkungan keamanan yang tidak mentoleransi upaya perubahan status quo secara sepihak melalui kekuatan militer.
Sejumlah persenjataan canggih turut dikerahkan termasuk sistem rudal Typhon milik AS yang telah ditempatkan di Filipina sejak awal 2024 dan sempat memicu protes dari China.
Jepang juga mengerahkan kapal pendarat tank, kapal perusak, dan kapal perusak helikopter, sementara Amerika Serikat mengoperasikan kapal patroli dan kapal pendarat dok.
Latihan berlangsung di tengah dinamika keamanan global yang masih bergejolak termasuk mendekati berakhirnya masa gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada 22 April 2026.
Amerika Serikat dan Filipina menegaskan tidak ada latihan yang dilakukan “di dekat Taiwan.”
Namun latihan pertahanan pesisir dijadwalkan berlangsung kurang dari 200 kilometer dari pesisir selatan wilayah Taiwan.
- Penulis :
- Shila Glorya








