HOME  ⁄  Hiburan

Tari Enjot-Enjotan Betawi Tampilkan Hiburan Sekaligus Unsur Bela Diri Penari

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tari Enjot-Enjotan Betawi Tampilkan Hiburan Sekaligus Unsur Bela Diri Penari
Foto: (Sumber: Tangkapan layar - Penari membawakan Tari Enjot-Enjotan. Tarian khas Betawi ini dilakukan berpasangan. ANTARA/HO-Disbud DKI Jakarta..)

Pantau - Tari Enjot-Enjotan khas Betawi tidak hanya menampilkan gerakan lincah untuk hiburan, tetapi juga mengandung unsur perlindungan diri bagi para penarinya.

Tari Enjot-Enjotan berasal dari budaya Betawi dan dilakukan secara berpasangan dengan memasukkan gerak silat sebagai bagian dari upaya melindungi diri penari.

Maestro Tari Betawi Kartini Kisam menjelaskan hal tersebut dalam siniar budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada Rabu, 21 Januari 2026.

Kartini Kisam menyampaikan, “Tari ini ada gerak silat, karena kalau dulu suka ada orang luar yang 'ngibing' ikut menari, kita penari harus bisa bela diri kalau laki-laki itu iseng,” ungkapnya.

Unsur perlindungan diri dalam Tari Enjot-Enjotan juga tercermin dari busana penari wanita pada masa lalu yang mengenakan kebaya lengkap dengan selendang.

Pada bagian ujung selendang tersebut diikatkan kunci rumah yang berfungsi sebagai alat perlindungan diri apabila ada penonton laki-laki yang bertindak iseng.

Kartini menjelaskan, “Filosofi pakaian bukan sekadar untuk pemanis tetapi ada filosofi untuk menjaga diri,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, “Jadi kalau ada laki-laki yang iseng itu dikepret. Selendang dimainkan dikepret buat menjaga kami penari,” jelasnya.

Tari Enjot-Enjotan berasal dari rumpun Topeng Betawi sehingga diiringi musik gamelan topeng, dengan penari yang tidak hanya menari tetapi juga menyanyi secara bergantian selama pertunjukan berlangsung.

Pada masa lalu, penari Tari Enjot-Enjotan juga diwajibkan mempelajari alat musik agar dapat menggantikan pemusik yang berhalangan hadir.

Saat ini, Tari Enjot-Enjotan terus dilestarikan agar dikenal generasi muda, dan pada tahun 2025 tarian ini bersama sembilan karya budaya lainnya dari DKI Jakarta tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Kartini Kisam mengaku telah mempelajari Tari Enjot-Enjotan sejak tahun 1970 dari sang nenek dan menyatakan rasa bangga atas pengakuan pemerintah tersebut.

Ia menyampaikan, “Merasa bersyukur berarti hasil latihan tidak sia-sia biar bisa membanggakan orang tua dan nenek saya yang sudah tiada,” tuturnya.

Sebagai bagian dari pelestarian Tari Betawi, Kartini Kisam aktif mengajar di sekolah serta mengenalkan Tari Enjot-Enjotan kepada mahasiswa dan generasi muda.

Kartini menjelaskan metode pengajarannya dengan mengatakan, “Saya mengenalkan musiknya tempo dulu baru mengajari gerakannya. Karena kalau tidak paham musiknya agak sulit menari Enjot-Enjotan,” jelasnya.

Sejak 2013 hingga 2025, tercatat sebanyak 95 karya budaya dari Jakarta telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan, yang menunjukkan kekayaan dan keragaman budaya Jakarta yang terus hidup di tengah masyarakat.

Penulis :
Ahmad Yusuf

Terpopuler