Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Tren Mode 2026: Dari Logo Mencolok ke Elegansi Sederhana dan Kualitas Abadi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tren Mode 2026: Dari Logo Mencolok ke Elegansi Sederhana dan Kualitas Abadi
Foto: (Sumber: IIlustrasi - Model memperagakan busana saat kegiatan Bali Fashion Tendance 2026 di Denpasar, Bali, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan itu menampilkan ratusan koleksi busana yang merujuk pada perkiraan tren tahun 2026 karya desainer-desainer dari sejumlah wilayah di Indonesia. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym..)

Pantau - Dunia mode diprediksi mengalami pergeseran besar pada tahun 2026, meninggalkan estetika penuh logo dan tampilan mencolok demi pilihan yang lebih sederhana, berkualitas, dan bermakna. Desainer ternama menyebut tahun ini sebagai era keanggunan tenang, daya tahan, dan pencarian nilai sejati dalam setiap helai pakaian.

Keanggunan, Daya Tahan, dan Pilihan yang Dewasa

Desainer Nachiket Barve mengungkapkan bahwa tren mode 2026 akan dipenuhi oleh pencarian pakaian yang serbaguna dan bermutu tinggi.

"Orang-orang mencari daya tahan dan pembelian yang matang. Produknya harus fantastis, dan pemikiran serta konsep di baliknya harus sama meyakinkannya dalam hal kualitas," ujarnya.

Ia menyoroti bahwa tren kini tidak lagi berfokus pada visual mencolok, melainkan pada fungsionalitas, desain yang bisa dikenakan dengan cara berbeda, serta nilai artistik di balik tiap potongannya—seperti jaket multifungsi dan rok panjang bersulam khas India (lehenga).

Menariknya, usia kini memengaruhi arah pilihan gaya.

Orang-orang yang lebih tua justru memilih pakaian modis, kaya warna, dengan siluet berani dan detail ekspresif.

Sementara itu, pembeli muda, khususnya Gen Z, justru lebih konservatif dengan preferensi pada potongan klasik, warna netral, dan siluet sederhana.

Digitalisasi, Mode Tanpa Musim, dan Warna Ketenangan

Desainer Payal Jain menambahkan bahwa digitalisasi akan menjadi pendorong utama transformasi industri mode tahun ini.

"Tren fesyen digital dan alat-alat yang didukung AI tampaknya berada di garis depan, karena merek-merek bereksperimen di media sosial dan e-commerce, memadukan lemari pakaian fisik dan virtual," ungkap Jain.

Ia juga memprediksi akan semakin banyak merek yang menciptakan koleksi gender-neutral, anti-fit, serta pakaian tanpa musim dan serbaguna.

Mode lambat—yang berfokus pada cerita, kerajinan tangan, dan kualitas tinggi—kian disukai, meski lebih mahal dan tidak sepopuler fast fashion di media.

"Merek fesyen lambat yang berorientasi pada cerita dan kerajinan tangan semakin disukai daripada fesyen cepat meskipun biayanya lebih tinggi dan kehadiran medianya lebih besar, dengan pergeseran nilai yang lebih dalam daripada tren yang berlalu," katanya.

Desainer Shruti Sancheti menyebut tahun 2026 sebagai masa pengendalian diri dan keanggunan.

Menurutnya, sejak akhir 2025, dunia mode telah meninggalkan promosi mencolok dan dominasi logo menuju nilai estetika yang lebih halus dan berakar pada keterampilan.

"Di saat orang-orang lelah dan mencari ketenangan, mode di tahun 2026 akan tentang pengendalian diri, penyempurnaan, dan kembali pada keanggunan. Kurang akan benar-benar lebih baik," ujarnya.

Warna “cloud dancer”—putih lembut yang melambangkan ketenangan dan keabadian—diprediksi menjadi warna tren utama sepanjang tahun ini.

Penulis :
Ahmad Yusuf