HOME  ⁄  Nasional

BPS Klarifikasi, Garis Kemiskinan Tidak Ditentukan Berdasarkan Pengeluaran Harian Rp20.000

Oleh Gian Barani
SHARE   :

BPS Klarifikasi, Garis Kemiskinan Tidak Ditentukan Berdasarkan Pengeluaran Harian Rp20.000
Foto: BPS meluruskan bahwa garis kemiskinan dihitung bulanan dan bervariasi antar daerah, bukan berdasar pengeluaran Rp20.000 per hari(Sumber: Ilustrasi shutterstock).

Pantau - Sebuah unggahan di platform X menarasikan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pengeluaran di atas Rp20.000 per hari bukan termasuk kategori miskin, namun narasi tersebut ternyata keliru.

Penjelasan Resmi BPS tentang Garis Kemiskinan

Dalam unggahan resminya melalui Instagram, BPS menegaskan bahwa angka garis kemiskinan per orang per hari tidak pernah ada.

Garis Kemiskinan (GK) adalah nilai rupiah pengeluaran minimum per bulan yang diperlukan seseorang atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan dan non-makanan agar tidak dikategorikan miskin.

Terdapat dua jenis penghitungan GK, yaitu GK Perorang (Per kapita), yang menghitung rata-rata pengeluaran minimum per individu, dan GK Per Rumah Tangga, yang menghitung rata-rata pengeluaran minimum berdasarkan jumlah anggota rumah tangga miskin.

GK Nasional sendiri merupakan rata-rata tertimbang dari seluruh GK provinsi, sehingga nilainya berbeda antar daerah.

Contoh GK per rumah tangga pada September 2024 menunjukkan variasi, antara lain di DKI Jakarta sebesar Rp4.238.886 per bulan, di Sumatera Selatan sebesar Rp2.844.888 per bulan, dan di Nusa Tenggara Barat sebesar Rp2.231.600 per bulan.

Dalam membahas kemiskinan, nilai GK harus disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Pentingnya Memahami Data dan Tidak Menyederhanakan

Tidak dapat disimpulkan bahwa pengeluaran Rp20.000 per hari berarti seseorang tidak miskin.

Jika rata-rata pengeluaran seseorang atau rumah tangga di atas garis kemiskinan, itu tidak otomatis menunjukkan kondisi kaya; bisa saja individu tersebut tergolong rentan miskin atau berstatus menengah ke bawah.

BPS mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial, terutama terkait data kemiskinan yang memerlukan pemahaman lebih mendalam.

Penulis :
Gian Barani