HOME  ⁄  Nasional

Inisiatif CISDI dan Fakta untuk Pelabelan Produk Pangan Dinilai Krusial bagi Kesehatan Masyarakat

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Inisiatif CISDI dan Fakta untuk Pelabelan Produk Pangan Dinilai Krusial bagi Kesehatan Masyarakat
Foto: Project Lead for Food Policy CISDI, Nida Adzilah Auliani saat memaparkan urgensi penerapan label depan kemasan untuk minuman manis dalam kemasan (MBDK) di Jakarta (sumber: CISDI)

Pantau - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) bersama Forum Warga Kota (Fakta) mendorong penerapan label depan kemasan (front-of-pack labelling/FoPL) pada produk pangan olahan dan siap saji seperti minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) sebagai bentuk perlindungan konsumen.

"Sejumlah bukti ilmiah sudah menunjukkan label depan kemasan atau FoPL efektif membantu konsumen untuk menghindari produk makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular," ujar Project Lead for Food Policy CISDI, Nida Adzilah Auliani, dalam keterangan tertulis di Jakarta pada hari Rabu.

Keterangan tersebut menyoroti pentingnya keterbukaan informasi kadar gula, garam, dan lemak (GGL) dalam makanan sebagai langkah preventif terhadap penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebenarnya telah memperkenalkan label "Pilihan Lebih Sehat" sejak tahun 2019, namun label ini dinilai belum mampu menunjukkan kadar GGL secara langsung.

CISDI menilai bahwa kebijakan pelabelan saat ini masih belum efektif karena sifatnya sukarela dan tidak menyampaikan informasi nutrisi secara eksplisit kepada konsumen.

Kritik atas Kebijakan dan Usulan Strategis untuk Reformasi Label Pangan

BPOM berencana menyederhanakan tiga peraturan terkait informasi nilai gizi menjadi satu aturan pada tahun 2025, tetapi tetap memilih untuk mempertahankan label "Pilihan Lebih Sehat" dalam format sukarela.

CISDI dan Fakta mengkritik rencana penerapan jenjang nutrisi (nutri-level) oleh pemerintah karena belum didasarkan pada kajian ilmiah yang kuat dan kurangnya partisipasi publik secara transparan dalam proses penyusunannya.

Kedua lembaga tersebut mendorong agar pemerintah menerapkan sistem pelabelan pangan yang informatif, konsisten, dan mengacu pada praktik terbaik global.

Label peringatan depan kemasan yang menunjukkan kadar GGL secara langsung dinilai sebagai alternatif yang lebih efektif dan mudah dipahami konsumen.

"Penerapan kebijakan label peringatan depan kemasan secara wajib (mandatori) berpotensi signifikan untuk menurunkan prevalensi obesitas, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya," tegas CISDI.

Ketua Umum Fakta, Ari Subagyo, menambahkan bahwa sinergi kebijakan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memilih makanan yang sehat.

"Pemberlakuan kebijakan yang komprehensif, seperti kebijakan label depan kemasan, cukai MBDK, dan pembatasan pemasaran produk tinggi GGL, akan lebih efektif untuk mewujudkan lingkungan pangan sehat bagi masyarakat," katanya.

Selain mendorong pelabelan kemasan yang lebih informatif, CISDI dan Fakta juga mendesak pemerintah segera menerapkan kebijakan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan.

Penulis :
Arian Mesa