
Pantau - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan bahwa keberhasilan program Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak cukup hanya mengandalkan sarana dan prasarana, melainkan sangat bergantung pada kualitas guru dan penguatan soft skill peserta didik.
Guru SMK Didorong Jadi Fasilitator dan Agen Peradaban
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa guru memiliki peran sentral dalam menyukseskan transformasi pendidikan vokasi di Indonesia.
“Peralatan canggih hanya akan menjadi pendukung jika guru tidak hadir sebagai pendidik yang profesional, kompeten, dan bermoral. Guru SMK harus menjadi fasilitator sekaligus pembimbing, bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi juga agen peradaban yang mentransfer nilai, akhlak, dan karakter,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguasaan soft skill seperti etos kerja, kemandirian, kewirausahaan, dan kemampuan beradaptasi di era digital menjadi aspek penting yang harus ditanamkan oleh guru kepada siswa.
Menurutnya, SMK tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak pencari kerja, tetapi juga harus mampu mencetak pencipta lapangan kerja.
“Revitalisasi SMK adalah ikhtiar bersama untuk mengubah stigma negatif dan menjadikan SMK sebagai pusat lahirnya generasi mandiri, kreatif, dan berdaya saing global,” tegas Abdul Mu’ti.
1.257 SMK Telah Direvitalisasi, Melebihi Target Nasional
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Diksi PKLK) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, melaporkan bahwa program Revitalisasi SMK saat ini telah memasuki tahap ke-8.
Sebanyak 1.257 SMK di 34 provinsi telah menerima bimbingan teknis (bimtek), melebihi target awal sebanyak 767 sekolah.
“Revitalisasi SMK mencakup penguatan kurikulum berbasis industri, peningkatan kompetensi guru, penyediaan sarana-prasarana, dan perluasan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Harapannya, lulusan SMK semakin kompeten, adaptif, dan mampu menjawab tantangan dunia kerja maupun melanjutkan studi,” ujar Tatang.
Ia menegaskan bahwa revitalisasi ini bukan semata program pengadaan fasilitas, tetapi merupakan gerakan nasional untuk membentuk lulusan SMK yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi agen peradaban.
Pemerintah menyiapkan lulusan SMK untuk tiga jalur utama: Bekerja, Melanjutkan studi, atau Wirausaha (BMW).
Dengan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan, program ini diharapkan mampu menciptakan pendidikan vokasi yang relevan, adaptif, dan memiliki daya saing global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








