
Pantau - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pentingnya kolaborasi nasional untuk memperkuat kemandirian teknologi, khususnya dalam penguasaan dan pengolahan logam tanah jarang (rare earth elements), sebagai bagian dari strategi besar Indonesia dalam mengelola sumber daya mineral strategis.
Kemandirian Teknologi Jadi Kunci Ekonomi Masa Depan
Pernyataan tersebut disampaikan Brian saat menghadiri acara Research and Innovation Day di Auditorium Universitas Brawijaya, Malang, Jumat (31/10/2025), dan kembali disampaikan di Jakarta pada Senin.
Menurutnya, kunci keberhasilan ekonomi bangsa tidak hanya terletak pada kekayaan alam, tetapi juga pada kemampuan menguasai teknologi yang berbasis riset.
"Kita harus punya strategi, rare earth kuncinya adalah dari kemampuan kita menguasai teknologi, dan membangun industri," ungkapnya.
Brian, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Industri Mineral (BIM), menyatakan bahwa Indonesia perlu belajar dari negara-negara seperti Jepang, Korea, dan China, yang mampu bangkit berkat riset dan teknologi pengolahan mineral strategis.
"Penguasaan teknologi nasional menjadi satu-satunya cara agar Indonesia tidak kembali mengulang sejarah ketika sumber daya alam diekspor murah namun diimpor kembali dalam bentuk barang jadi bernilai tinggi," tegasnya.
Kolaborasi Riset dan Potensi Mineral Nasional
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Tatacipta Dirgantara, turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam pengembangan teknologi logam tanah jarang.
Ia menyebut bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi dasar dalam tata kelola sumber daya alam nasional.
"Melalui sinergi antar fakultas, pusat riset, dan dunia industri, ITB siap memperkuat kontribusi akademik dari hulu hingga hilir," ujarnya.
Indonesia diketahui memiliki 15 jalur metalogeni atau jalur mineralisasi logam dari proses magmatik dengan total panjang 15.000 km, namun baru setengahnya yang tereksplorasi.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, juga menyampaikan bahwa potensi logam tanah jarang dan mineral kritis di Indonesia sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
"Kita memiliki potensi mineral kritis dan logam tanah jarang yang cukup besar. Selama ini belum termanfaatkan secara maksimal, padahal kebutuhan industri dalam negeri dan pengembangan teknologi hilirisasi sangat besar," jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian ESDM telah menjalin kerja sama dengan ITB, UGM, UPN Veteran Yogyakarta, dan Unpad dalam kegiatan eksplorasi mineral dan batubara (minerba) di berbagai wilayah Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan









