
Pantau - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, secara resmi membuka Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (ICCCRL) di Jakarta dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk generasi muda yang inklusif dan mampu menjalin kerja sama lintas budaya.
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Jadi Pilar Pendidikan Karakter
Dalam sambutannya, Abdul Mu'ti memperkenalkan praktik penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) sebagai bagian dari strategi pembentukan karakter peserta didik yang selaras dengan semangat literasi keagamaan lintas budaya.
Ia menyatakan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan pengikat masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus berupaya menyediakan landasan pedagogis dan strategis untuk membekali generasi Indonesia dengan keterampilan sosial dalam membangun persahabatan dan kolaborasi antarbudaya.
Penerapan Tujuh KAIH bertujuan membentuk generasi yang terbuka, berjiwa kesatria, mampu menerima perbedaan, dan siap bekerja sama dengan individu dari berbagai latar belakang budaya maupun agama.
Konferensi Dihadiri Peserta dari 20 Negara
Konferensi ICCCRL yang digelar pada 11–12 November 2025 diselenggarakan oleh Kemendikdasmen RI bersama Institut Leimena dan dihadiri lebih dari 200 peserta dari 20 negara.
Negara-negara peserta antara lain Austria, Denmark, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, Inggris, Finlandia, Uzbekistan, Bahama, Bulgaria, serta negara-negara Asia Tenggara.
Peserta konferensi terdiri atas pejabat pemerintah, akademisi, tokoh agama, pimpinan lembaga internasional, dan guru-guru alumni program Literasi Keagamaan Lintas Budaya dari berbagai provinsi di Indonesia.
Mengusung tema Pendidikan dan Kepercayaan Sosial dalam Masyarakat Multiagama dan Multikultural, kegiatan ini menjadi forum pertukaran gagasan untuk memperkuat kohesi sosial melalui pendidikan.
Pemerintah mendorong generasi muda untuk aktif dalam kegiatan sosial, olahraga, serta membangun relasi yang sehat dengan individu dari latar belakang yang beragam.
Abdul Mu'ti meyakini bahwa berbagai program dan inisiatif Kementerian dapat memperkuat literasi keagamaan lintas budaya serta memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter dan persatuan bangsa.
- Penulis :
- Aditya Yohan






