HOME  ⁄  Nasional

Mayoritas Ekonom Sarankan BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen pada November 2025

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Mayoritas Ekonom Sarankan BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen pada November 2025
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym..)

Pantau - Mayoritas ekonom menilai Bank Indonesia (BI) sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan November 2025, yang keputusannya dijadwalkan diumumkan Rabu siang.

Langkah menahan suku bunga dinilai tepat di tengah tekanan nilai tukar rupiah, ketidakpastian global, serta dinamika arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik.

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, menegaskan bahwa stabilisasi moneter menjadi pertimbangan utama kebijakan BI bulan ini.

“Jadi ini yang saya lihat akan menjadi faktor utama yang akan membuat BI untuk tetap menjaga suku bunga di level 4,75 persen pada bulan ini,” ungkap Myrdal.

Faktor Rupiah dan Ketidakpastian The Fed

Myrdal menyebut nilai tukar rupiah masih berfluktuasi dan cenderung melemah terhadap dolar AS, sehingga diperlukan upaya menjaga stabilitas oleh bank sentral.

Di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed (bank sentral AS) juga menjadi faktor penentu.

Meski semakin banyak pihak memprediksi The Fed akan menahan suku bunganya, pelaku pasar tetap menunjukkan keraguan yang menciptakan volatilitas.

Hal tersebut membuat Bank Indonesia perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan agar tidak menambah tekanan terhadap rupiah.

Tekanan Inflasi dan Arus Modal Keluar

Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI, juga memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Ia mengungkapkan bahwa tekanan inflasi domestik mulai menunjukkan kenaikan, terutama akibat puncak permintaan musiman.

Sementara itu, terjadi peningkatan arus keluar modal dari pasar keuangan Indonesia.

Dalam periode pertengahan Oktober hingga pertengahan November 2025, tercatat aliran modal keluar bersih sebesar 0,95 miliar dolar AS dari pasar obligasi dan saham.

Sebagian besar berasal dari penjualan surat utang pemerintah oleh investor asing.

Riefky menilai pelemahan ini turut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap risiko fiskal dan quasi-fiskal.

Salah satu isu utama adalah rencana pemerintah untuk mengambil alih utang proyek kereta cepat Whoosh, yang memunculkan sentimen negatif di kalangan investor.

Dengan mempertimbangkan berbagai tekanan global dan domestik tersebut, para ekonom sepakat bahwa mempertahankan BI-Rate di 4,75 persen adalah pilihan paling realistis saat ini.

Penulis :
Aditya Yohan

Terpopuler