
Pantau - Indonesia resmi menempati peringkat pertama di ASEAN dalam jumlah indikasi geografis terdaftar dengan total 261, berdasarkan data per 27 November 2025 dari laman ASEAN IP Register.
Pencapaian ini disampaikan langsung oleh Menteri Hukum dan HAM, Supratman Andi Agtas, yang menyebut bahwa hasil tersebut merupakan bukti nyata dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta asosiasi atau Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).
Thailand berada di posisi kedua dengan jumlah 257 indikasi geografis, hanya terpaut empat dari Indonesia.
Komitmen Pemerintah Perkuat Potensi Lokal
"Capaian ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat dalam memperkuat ekosistem kekayaan intelektual berbasis komunitas," ungkap Supratman.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam melindungi produk khas daerah yang memiliki keunggulan lokal.
"Indikasi geografis saat ini telah menjadi instrumen penting dalam mengangkat potensi lokal ke level internasional. Ini merupakan bukti bahwa produk-produk asli daerah memiliki nilai ekonomi yang kuat ketika dilindungi dan dikelola dengan baik," ia mengungkapkan.
Supratman juga menekankan bahwa masih banyak produk khas daerah yang berpotensi besar untuk dilindungi sebagai indikasi geografis, mengingat Indonesia termasuk dalam negara megabiodiversitas.
"Perlindungannya dapat menjadi strategi dalam meningkatkan daya saing produk lokal sebagai sumber peningkatan ekonomi di daerah," tegasnya.
Peningkatan Layanan dan Pendampingan Daerah
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, Hermansyah Siregar, turut menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan layanan dan pendampingan untuk pendaftaran indikasi geografis.
Pendampingan secara khusus akan difokuskan kepada daerah-daerah yang masih belum banyak tereksplorasi.
Langkah ini diambil guna memastikan keberlanjutan sistem pelindungan dan pengawasan terhadap produk-produk yang telah mendapatkan status indikasi geografis.
"Saya berharap Indonesia tidak hanya memimpin dari sisi jumlah seperti saat ini, tetapi juga menjadi yang terbaik dalam tata kelola, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan ekonomi dari Indikasi Geografis. Ini bagian dari upaya kami menjadikan kekayaan intelektual sebagai penggerak ekonomi nasional," jelas Hermansyah.
- Penulis :
- Aditya Yohan






