Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

UGM Pasang Sistem Penjernih Air Bertenaga Surya di Wilayah Bencana Aceh, Bantu Atasi Krisis Air Bersih

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

UGM Pasang Sistem Penjernih Air Bertenaga Surya di Wilayah Bencana Aceh, Bantu Atasi Krisis Air Bersih
Foto: (Sumber: Petugas memasang panel surya sebagai bagian dari sistem penjernih air bertenaga surya di salah satu lokasi terdampak bencana di Aceh. (ANTARA/HO-Tim UGM)

Pantau - Tim relawan Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang sistem penjernih air bertenaga surya di sejumlah titik terdampak bencana di Aceh guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya di posko-posko pengungsian.

Sistem penjernih air yang digunakan memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 galon per hari (GPD), atau setara dengan 1.900 hingga 3.800 liter per hari.

“Ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian,” ujar Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Adhy Kurniawan, dalam keterangannya dari Yogyakarta, Jumat.

Mandiri Energi, Prioritaskan Posko dan Fasilitas Kesehatan

Sistem penjernih air ini dirancang khusus menggunakan tenaga surya agar tidak bergantung pada listrik dan bahan bakar minyak (BBM), yang sulit diakses dalam situasi darurat.

Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat UGM dalam upaya tanggap darurat bencana.

Kegiatan dilakukan secara lintas disiplin dan melibatkan dosen Sekolah Vokasi UGM, tim relawan dari Universitas Teuku Umar (UTU), serta Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL).

Langkah awal telah dilakukan dengan pemasangan sistem penjernih air sederhana di RSUD Bener Meriah sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan.

Berdasarkan asesmen awal, alat penjernih air akan diprioritaskan untuk lokasi-lokasi seperti Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes di wilayah Simpur, Kabupaten Bener Meriah.

“Selanjutnya penempatan alat penjernih air bertenaga surya akan dipasang di titik prioritas lainnya,” tambah Adhy.

Krisis Air Bersih Ganggu Pelayanan Kesehatan

Ketua Tim Cadangan Kesehatan – Emergency Medical Team Academic Health System (TCK-EMT AHS) UGM, Muhammad Nurhadi Rahman, menyampaikan bahwa krisis air bersih menjadi tantangan utama di wilayah terdampak.

“Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan,” ujarnya.

Tim relawan juga turut melakukan pendampingan terhadap layanan kesehatan di fasilitas seperti Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, terutama dalam pengecekan kamar operasi, kamar bersalin, dan ketersediaan air bersih.

Koordinasi telah dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memetakan kerusakan infrastruktur air bersih di wilayah terdampak.

“Kami mendapat informasi bahwa empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah rusak, sementara fasilitas perbaikannya belum sampai ke lokasi. Saat ini masyarakat hanya mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian,” jelas Nurhadi.

Penulis :
Gerry Eka